Komunitas Media Suara ITB

March 28, 2006

Sebuah Blog untuk Seribu Ungkapan:

Filed under: Umum — editor @ 9:12 pm

Bagian 1

Pada mulanya. . .

Menulis catatan yang disebut “blog” adalah hal yang lazim dikerjakan oleh para pekerja Teknologi Informasi terhadap sistem yang mereka urus. Sama jamaknya dengan budaya menulis buku harian, catatan perjalanan, editorial media, sampai dengan notulensi pertemuan organisasi. Semua tulisan yang disebut tadi dibuat berdasarkan kerangka waktu dalam melihat peristiwa.

Tidak ada yang baru sampai dengan ditemukan cara agar catatan-catatan tersebu lebih mudah dipublikasikan, lebih mudah dibaca orang lain, dan penulisnya memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan pembaca dengan lebih mudah.

Blog adalah pemenggalan dari kata weblog dan menurut tulisan Enda Nasution, istilah tersebut pertama kali digunakan oleh Jorn Barger pada 1997 [NAS]. Kendati cikal-bakal situs Web yang bercorak blog sudah muncul sebelum disebut secara spesifik oleh Barger, kondisi tekologi Web saat itu masih merupakan kendala besar. Memiliki sebuah situs Web masih merupakan kesulitan tersendiri. Hingga akhirnya pada 1999 Blogger, saat itu sebuah perusahaan rintisan,menyediakan layanan gratis dan berbayar untuk penyusunan blog. Penetrasi Blogger ini menjadi penyebab awal ledakan jumlah blog. Berbeda dengan layanan tempat hosting gratis yang sudah ada, penyedia blog tidak berbicara apa-apa tentang nama berkas atau sintaks HTML untuk menyusun sebuahWeb pribadi, melainkan menyodorkan tanggal sebagai titik-acuan. Pemakainya dapat berpikir praktis: saya hendak menuliskan catatan pada tanggal sekian.

Dilihat dari sisi rentang waktu hingga aktivitas blog meledak pada tahun 2004[DIR], “sosialisasi” blog perlu waktu sekitar lima tahun hingga diterima oleh kalangan yang sangat luas. Pada rentang waktu tersebut, blog sudah menjelma menjadi banyak kemungkinan: koleksi taut Internet – lebih variatif dibanding yang disodorkan Tim Berners-Lee, koleksi artikel – ratusan ribu orang menuliskan sikap dan memberi masukan, koleksi foto (photoblog) – pemberi semangat baru pada album foto yang sebelumnya statik, forum diskusi komunitas atau publik – menjelma menjadi ribuan Speakers’ Corner ala Hyde Park, London.

Kondisi kita di Indonesia saat ini: riuh-rendah blog sudah berimbas, penulisblog berjumlah lebih dari sepuluh ribu orang [DIRa], pemakai Internet sekitar dua belas juta orang, kebebasan menulis blog boleh dikatakan sejauh ini tidakada persoalan berarti, dan ongkos koneksi Internet masih mahal.

1.1 Saya menulis [di blog], maka itulah saya

Di sebuah tempat di Belanda, ada tulisan yang agaknya terinspirasi oleh ungkapan sohor Rene Descartes6, ik schrijf, dus ben ik. Motivasi terbesar bagi pemilik blog adalah mencatatkan aktivitas atau gagasannya, bukan memiliki blog. Dengan demikian, pertanyaan, “Apakah Anda sudah memiliki blog?”sebaiknya diganti menjadi “Apakah Anda sudah mencatatkan sesuatu di blog?”

Memiliki blog adalah pekerjaan yang sangat mudah saat ini. Setiap orang yang berbekal akses Internet dapat mengumpulkan sebanyak mungkin akun blog (representasi kepemilikan blog) yang menurutnya menarik. Namun yang lebih penting adalah kesediaannya untuk menulis. Kecintaan akan melakukan pencatatan,ketekunan untuk mengolah ide, atau kerajinan mengumpulkan hasi kerja (foto, puisi, kodE sumber

pemrograman, analisis di lab) inilah yang menggerakkan aktivitas blog.

Pada sebuah diskusi di milis (mailing list) di sekitar tahun 1998, salah seorang teman mengomentari saya bahwa email yang saya kirim selalu menggunakan“bahasa yang indah”. Milis yang kami ikuti “hanya” sebuah milis paguyuban dan pertama kali saya membaca komentar itu sambil menimbang-nimbang: apa yang dia maksudkan dengan “indah” di situ? Ternyata si penulis komentar mencermati kebiasaan saya yang berusaha menulis email dengan bahasa Indonesia baku. Baik sedang mengikuti diskusi serius atau sedang bercanda dimilis, saya berusaha tetap berbahasa Indonesia baku – hanya pemilihan ungkapan yang saya ganti dari serius menjadi santai, atau sebaliknya.

Dalam sebuah diskusi yang lain saya memperoleh testimoni yang sedikit mengagetkan:

ada satu atau dua anggota milis yang menyimpan tulisan saya atau sesekali mencetaknya di atas kertas (hard copy). Saya melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang melecut: segala sesuatu jika dikerjakan sungguh-sungguh dan dengan kecintaan kemungkinan besar dapat bermanfaat bagi orang lain. Artinya, saya perlu sebuah tempat penyimpanan artikel (repository) yang lebih terorganisir rapi – lebih dari sebuah milis yang repot pengelolaannya.

Apabila sebelumnya saya sempat menjadi pengajar materi Web dan pemrogramannya, baru pada tahun 2002 saya mulai menekuni pekerjaan mengelola situs Web dengan serius. Selain untuk keperluan organisasi yang saya ikuti, koleksi beberapa tulisan pribadi mulai saya publikasikan. Rencana yang saya susun sederhana: jika diperlukan sebagai kutipan untuk diskusi di milis misalnya, saya cukup menyebut URI kutipan. Dengan latar belakang pemrograman yang saya miliki, pemuatan sebuah artikel ke situs Web dapat dilakukan secara otomatis. Oh ya, saya mulai mengumpulkan tulisan!

Saat itu saya telah mendengar istilah blog terutama Blogger.com yang mulai

disebut-sebut di beberapa situs. Namun demikian, saya belum tertarik dengan“gaya” blogging yang didengung-dengungkan. Sampai akhirnya pada pertengahan tahun 2004, Hatami Nugraha, salah satu teman yang dikenalkan lewat Yahoo! Messenger, menunjukkan perangkat lunak Movable Type. Setelah saya coba menyusun templat, memindahkan artikel yang sudah ditulis, saya mulai menyadari beberapa konsep yang tersedia secara praktis di Movable Type.

Ditambah beberapa kunjungan ke situs-situs yang membicarakan standar Web,

saya merasa sudut pandang yang disodorkan alat bantu blog cocok dengan konsep Web yang saya anut. Alhasil, saya mulai menulis lewat blog karena: praktis dan konsep yang digunakan cocok dengan anggapan saya.

1.2 “Gue banget” hingga “bersama kita bisa”

Salah seorang teman yang sudah menerjemahkan belasan buku dan aktif di dunia perbukuan mengemukakan kejengahannya membaca beberapa blog yang pernah dikunjungi. “Waktu masih remaja, kami selalu dinasehati agar buku harian disimpan baik-baik di dalam lemari. Tidak diumbar seperti cerita-cerita di dalam blog,” demikian keberatan dia. “Kalau demikian, kira-kira apa motivasi penulisnya?,” saya balik bertanya. Dia menjawab dengan gaya anak muda, “Aktualisasi diri, coy!” Saya mendapatkan ungkapan akan kondisi tersebut yang justru tumbuh dan berkembang dalam budaya blog dan kelengkapan yang menyertainya: gue banget! Jika diamati secara sekilas, blog yang berisi catatan aktivitas harian penulisnya memang masih menempati porsi lebih besar. Sebagian malah terlihat membawa pandangan dirinya secara emosional (dari sisi perasaan) dalam takaran berlebih. Selain hal ini merupakan konsekuensi dari Internet yang bersifat terbuka dan global – yang secara otomatis diterjemahkan menjadi, “Saya bisa berbicara kepada dunia!” – blog sendiri sebagai perpanjangan catatan harian memang membawa diri penulisnya dengan sangat personal. Ditambah pernakpernik alat bantu blog dan kelengkapannya, tag HTML dan CSS12, dan alat-alat bantu multimedia, menjadi sebuah tuntutan untuk menyajikan blog yang menjadi representasi pengelolanya. Sebuah blog yang gue banget! dari sisi pemiliknya.

Sisi sebaliknya dari kondisi di atas adalah kemungkinan sangat potensial untuk mengembangkan sebuah deposit pengetahuan dan budaya publik lewat untai manik-manik publikasi personal berupa blog. Deposit publik yang dimaksud adalah tingkat kepemilikan khalayak akan pengetahuan dan budaya. Kira-kira dapat digambarkan seperti ini: teori relativitas Einstein konon sulit dijelaskan dan diterima publik – termasuk akademisi – pada tahun 1940-an, namun sekarang ini sudah menjadi sesuatu yang akrab bahkan bagi siswa sekolah lanjutan.

Internet datang di Indonesia tidak melewati proses yang panjang seperti halnya di negara asalnya. Masyarakat kita menerima Internet sudah pada saat era dot-com berlangsung. Semangat awal untuk berbagi seperti pada saat Internet masih berkutat di universitas dan lembaga penelitian di Amerika Serikat acapkali terlewat. Alih-alih menunggu inisiatif dari pihak-pihak besar memulai penyediaan materi yang diperlukan di Internet, momen ini bisa “dicuri” oleh publik sebab publikasi materi lewat Web secara swadaya bukan sesuatu yang muskil.

Yah, seperti jargon sebuah partai, “Bersama Kita Bisa”.

(more…)

February 5, 2006

Dunia Menggila …

Filed under: Umum — suaraitb @ 9:49 am

Aliran waktu yang menjurumus pada dimensi tanpa batas melalaikan manusia dari segala hal yang telah diatur oleh aturan Tuhan. Kesombongan dari sang manusia yang telah menjadi-manjadi menyebabkan kemurkaan Tuhan yang sangat membenci manusia-manusia sombong yang ada di muka bumi ini. Lalu apa konsekuensi dari kesombongan itu??? Sebuah kegilaan…, ya …, kegilaanlah yang telah menyeruak dari alam tanpa dasar menuju permukaan. Kita lihat saja saat ini, betapa banyak bentuk dari kegilaan tersebut menjelma untuk sekedar mengelabui manusia-manusia yang tidak pernah memakai mata batinnya. Dan parahnya lagi, mereka yang melakukan kegilaan itu tidak sadar bahwa yang mereka lakukan adalah sebuah bentuk kegilaan.

Sebut saja …, RUU anti pornografi dan pornoaksi yang belakangan ini sedemikian marak muncul untuk diangkat menjadi topik yang panas untuk dibicarakan. Walaupun pro dan kontra itu adalah hal wajar dalam sebuah kasus, tidak sewajarnya bagi manusia yang beragama dan berbudaya berdalih bahwa pornografi dan pornoaksi itu boleh-boleh saja. Bahkan mereka yang kontra terhadap RUU tersebut notabene adalah public figure dan orang-orang yang berpendidikan. Patut dipertanyakan memang, sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran mereka??? Mereka berdalih bahwa pornografi dan pornoaksi itu adalah sebuah seni …, padahal jelas bahwa pornografi dan pornoaksi itu sangat bertentangan dengan seni. Seni adalah hasil cipta dan karsa manusia yang membuat penikmatnya menikmati dari segi akal dan hati. Sedangkan pornografi ataupun pornoaksi adalah alat setan yang digunakan untuk menguasai nafs/jiwa manusia menjadi sebuah al hawa al nafs yang berarti sebuah kesemuan jiwa.

Timbul lagi sebuah pertanyaan, Apakah uang dan popularitas telah menjadi komoditas utama sebuah kehidupan???

Ingatkah kita akan salah satu pesan Rasulullah saw untuk berhati-hati terhadap 3 hal : harta, tahta, wanita. Namun, tampaknya sekarang banyak sekali manusia yang telah mengabaikan pesan itu. Bahkan, ketiganya sudah menjadi tujuan dari kebanyakan. Wanita diekspos dalam sebuah kedok “seni” untuk mendapatkan harta …, dan harta digunakan untuk mendapatkan kekuasaan yang pada akhirnya ditujukan untuk mendapatkan harta yang lebih banyak lagi. Dunia ini sudah betul-betul gila …, dan kegilaan ini tampaknya terus berlanjut tiada henti.

Sebuah tantangan untuk kita semua yang berniat menghapuskan semua kegilaan di dunia ini…, apakah kita akan diam saja melihat kegilaan-kegilaan ini terjadi di depan mata kita??? Teringat sebuah lagu dari Extreme, More Than Words, seharusnya kita bercermin pada judul lagu itu …, lebih dari kata-kata, kita butuh tindakan yang real .., yang konkrit. Teringat dengan 3M-nya Aa’ Gym, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang terkecil, dan mulailah saat ini juga.

Oleh: Black Fire

Laskar Pelangi, Sebuah Potret Realita

Filed under: Review,Umum — suaraitb @ 9:39 am

Oleh: Trian Hendro A

Di tengah ramainya jagad buku akhir-akhir ini dibanjiri cerita chicklit dan teenlit, sebuah langkah berani dilakukan oleh Bentang Pustaka. Tidak hanya karena menawarkan tema yang “sedikit” berbeda dari arus, tapi juga karena cerita ditulis oleh seorang pemula di kalangan novelis, cerpenis atau kalangan sastra Indonesia.

Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, memberi suasana baru di dunia sastra kita sekarang. Di Laskar Pelangi (LP), Andrea menceritakan kisah hidupnya sendiri bersama teman-temannya ketika masa-masa menikmati pendidikan dasar di daerah pelosok Pulau Belitong, daerah yang sebenarnya merupakan penghasil timah terbesar nasional. Sekawanan anak manusia itulah yang mereka namakan sendiri sebagai laskar pelangi, karena kesukaannya pada fenomena pelangi yang mereka nikmati di atas pohon Filicium.

Ceritanya mengalir dimulai dari hari pertama penerimaan murid baru SD Muhammadiyah, sebuah sekolah swasta yang digambarkan dengan bangunan seperti kandang ayam yang terdiri dari seorang kepala sekolah dan seorang guru untuk 9 tingkat sekolah (SD dan SMP), akhirnya berhasil memenuhi target jumlah minimal 10 siswa sehingga sekolah tidak dibubarkan. Karena semata-mata sekolah itu gratis Dan hari-hari petualangan LP mulai menarik dinikmati, dengan karakteristik anak-anaknya yang unik.

Misalnya, seorang anak pesisir bernama Lintang, yang mewakili adegium bahwa kecerdasan bisa terlahir dimana saja, tidak melihat status sosial dan geografis. Kemudian Mahar, dengan kemampuannya berhasil mendalami dan mengaktualisasikan bahasa seni dari alam sekitarnya. Dan keduanya seperti perpaduan Yin-Yang, mampu menciptakan keseimbangan dinamis yang mengangkat posisi sekolahnya menjadi terpandang di Belitong.

Hal yang paling kuat disampaikan dalam novel ini, bahwa dibutuhkan keteguhan, ketekunan, keinginan dan kerja keras untuk mewujudkan cita-cita. Keterbatasan yang dimiliki, tetap akan menumbuhkan kebahagiaan bila dimaknai dengan keihlasan berkorban untuk sebanyak-banyaknya memberi, bukan menerima. Kita juga dihadapkan pada banyak perjuangan manusia dengan segala keterbatasannya, sangat menghargai pendidikan.

Banyak potret kehidupan yang ditampilkan novel ini. Kesahajaan seorang guru, Bu Mus, yang benar-benar layak digugu dan ditiru. Atau kebijaksanaan sang Kepala Sekolah, Pak Harfan. Kesenjangan pendidikan di daerah-daerah pelosok negeri ini, ketidakadilan yang harus menenggelamkan potensi kecerdasan anak bangsa, dan kehidupan sosial masyarakat Pulau Belitong, sebuah gambaran paradoks pemerataan pembangunan.

Kisah percintaan gaya anak kecil, keberanian dan keingintahuan yang besar menjadi feature dalam cerita ini. Andrea sendiri sengaja mengeksplorasi pengetahuan hayati, sehingga kita disajikan dengan banyak kiasan menggunakan bahasa tumbuhan, yang di satu sisi memperkaya kosakata kita tapi disisi lain akan membuat pembaca bosan.

Dari jenisinya, LP bisa dimasukan dalam deretan novel realis, hampir sejalan misalnya dengan cerita fiksi yang disandarkan pada kisah nyata atau sejarah. Dan bagi penulis pemula, sebuah karya akan mudah lahir bila alur ceritanya memiliki ikatan emosional kuat dengan pengarang. Pun demikian dengan Andrea. Sehingga kelemahan seorang pengarang pemula yang terjebak pada ketidakjelasan alur dan muatan cerita, gaya bahasa, serta kemampuan deskriptif banyak tertutupi karena Andrea seolah-olah hanya memindahkan pengalamannya ke dalam LP.

Akhirnya, Laskar Pelangi layak dibaca siapa saja, tidak hanya penikmat sastra, tapi juga penggiat atau stakeholder pendidikan. Dan khasanah cerita kita, akan semakin bermakna dengan kehadiran Laskar pelangi ini. Selamat membaca…

Cover Laskar Pelangi

January 19, 2006

Pers Mahasiswa ITB: Masih Ada Kesempatan Berbenah

Filed under: Umum — suaraitb @ 12:37 pm

Saya membayangkan sebuah pers mahasiswa ITB yang mampu melahirkan karya-karya khas pers mahasiswa, sesuai dengan karakter mahasiswa sebagai sebuah konstruksi komunitas organis. Pers mahasiswa (persma) yang mampu sejajar dengan beban sejarah institut dalam menapaki jejak langkah perjuangan serta pembangunan bangsanya. Persma yang dirinya berada bukan dalam rangka mewujudkan pers itu sendiri, melainkan juga sebagai sebuah tanggung jawab yang diemban oleh insan-insan institut sebagai sebentuk harapan bagi lingkungannya.

ITB, terlahir sebagai institut tertua di negeri ini, melahirkan banyak tokoh bangsa dan dicatat dalam tinta emas sejarah bangsa. Sudah puluhan tahun ditapaki, tidak menjadikan ITB lekang karena waktu. Malah institut ini semakin ditunggu kiprahnya di setiap pergulatan bangsa dalam mencari identitas. Dan memang terbukti dalam torehan, hampir setiap momen bangsa, sedkit atau banyak, ITB masuk dalam pusaran dinamika itu.

Sejarah dan peran panjang institusi ITB hendaknya lah mampu diwarisi semangatnya oleh persma ITB. Bagaimana sebuah persma ITB menjawab tuntutan, bukan hanya sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari jubah institusi, melainkan juga oleh dunia persma itu sendiri. Dalam segala daya upaya merangkai (kembali) semangat ke-persma-an itulah, sebuah tulisan sederhana ini dihaturkan.

Sebuah persma mahasiswa ITB, adalah pers mahasiswa yang mampu menyeimbangkan peran kekinian ITB dalam kerangka jurnalistik yang dimoderasi. Jika dalam era sebelum 1998 cirikhas pers mehasiswa adalah menjadi salah satu insan pers di negara ini yang berani vis a vis dengan pengusa (baca: rezim otoriter), sedangkan pers umum lainya cenderung berada di “jalur aman”, maka pasca reformasi seharusnya tidak menjadikan pers mahasiswa kehilangan pijakan jurnalistik dengan tetap mengusung spirit sama dalam aktivitasnya.

Di ITB, perjalanan persma dibidani khusus oleh unit kemahasiwaan Boulevard dan Pers Mahasiswa ITB (untuk berkutnya, nama unit akan disebut lengkap: Pers Mahasiswa atau disingkat PM, dan pers mahasiswa sebagai sebuah istilah, disingkat persma). Boulevard berdiri pada awal dekade 90-an, dimana saat itu sebuah persma disolidkan dengan jiwa perlawanan melalui tabloid dan buletinnya. Dan yang lebih muda, Pers Mahasiswa mulai dihadirkan di wajah institut tahun 2000an, dimana gagasanya untuk menelurkan majalah yang menjadi bentuk representatif wajah ITB di luar.

Jauh sebelumnya ternyata, Didik Supriyanto[1] mencatat, sebuah persma ITB pernah lahir dalam bentuk majalah mahasiswa yang terkenal saat itu, Kampus (KM). KM hadir di periode pemberlakuan NKK/BKK yang terkenal dengan represifitas gerakan mahasiswa. Ketika gerakan ditindak, locus persma yang menjawabnya kala itu. Seiring berjalannya waktu pula, KM tidak mampu bertahan karena “kegenitan” terhadap pemerintah yang dicirikannya sendiri.

Realitas Kuasa dan Eksistensialis Persma
Maka saat ini, Boulevard dan Pers Mahasiswa adalah realitas kuasa atas persma ITB. Dan realitas kuasa ini, menurut Habermas[2], seharusnya tidak hanya dilegitimasikan tetapi juga dirasionalisasikan. Bentuk legitimasi sudah dilakukan Boulevard dan Pers Mahasiswa yang dengan keterbatasanya menghasilkan karya jurnalistik, Boulevard dengan tabloid mahasiswa Boulevard dan buletin Selasar, sedangkan Pers Mahasiswa mengandalkan majalah Edutrend.

Apa yang menarik, bahwa Habermas menyoroti bahwa segala bentuk kekuasaan seharusnya tidak hanya dilegitimasikan, tetapi juga bisa dirasionalisasikan. Dalam kekuasaan, rasionalisasi diejakan dengan model komunikasi antara subyek dan obyek. Dan jika dalam ranah jurnalistik persma, rasionalisasinya bukan semata pada komunikasi, karena dalam legitimasinya, sebuah persma justru secara aktif melakukan komunikasi pembuktian.

Rasionalisasi yang dilakukan adalah rekonstruksi persma itu sendiri, dalam pengertian menuju sebuah persma yang sejati. Walaupun sejati sendiri itu tiada kemutlakan, namun kesejatian sebuah fenomena dalam praksis bisa dilihat dalam keberadaan komunitas persma saat ini berada. Artinya, sebuah kondisi atas persma-persma lain bisa menjadi alat bantu untuk rekonstruksi kesejatian.

Kenyataannya, bahwa persma ITB terlihat gagap berhadapan dengan persma lainya, walaupun kedua belah pihak serupa dalam bereproduksi, antara buletin dan majalah atau jurnal. Setelah menelisik lebih jauh, sebuah pertanyaan, harapan yang bercampur pesimistis menghujam dalam menukik dakian ke-aku-an, masih bisakah persma ITB menanggalkan dirinya untuk kemudian sengaja melakukan rekonstruksi?

Sayangnya, eksistensi ke-aku-an tadi masih banyak di sela-sela duduk kita. “Mereka kan punya jurusan sosial, kita?”, sebuah apologi saya pikir, daripada sebuah refleksi atas kesadaran diri sendiri. Bukankah kita, ITB, memang seperti ini? lantas ada apa dengan Suara Mahasiswa? Justru, sekarang lah saat tepat untuk berpikir keras dan dalam atas eksistensi kita sendiri, kenapa kita masih berani menyebut diri sebagai bagian dari persma. Kalau memang tidak mau, sekali tadi mau bukan masalah mampu, maka buram sudah jarak pandang ke depan persma ITB. (more…)

December 11, 2005

Press Release

Filed under: Umum — suaraitb @ 9:17 am

Pusaran cepat dunia dalam setiap kehidupan manusia zaman sekarang adalah fenomena yang tak bisa dilawan. Kampus, sebagai miniatur masyarakat menjadi warna sekaligus imbas dari dinamika tersebut. Banyaknya ragam aktivitas mahasiswa menjadi ciri khas kampus yang tak bisa dilepaskan dalam perkembangan dunia saat ini.

Hal yang juga dialami oleh Institut Teknologi Bandung (ITB), institusi pendidikan tinggi terkemuka di negeri ini. Gambaran aktivitas mahasiswa adalah bagian potret mahasiswa negeri yang menjadi bukti sejarah yang layak dilihat oleh seluruh masyarakat Indonesia sepanjang zaman, tidak pada sebatas lembaran kertas putih bukti kegiatan.

Atas dasar itulah, Komunitas Media ITB yang terdiri atas Kominfo KM ITB, Boulevard, Pers Mahasiswa, Lentera Gamais, Radiokampus, 8EH dan Ganesha TV mendeklarasikan Komunitas Media Suara ITB, dan menggagas sebuah bentuk aktivitas jurnalistik baru di kampus Ganesha ini.

Citizen Jurnalism atau jurnalistik massal, adalah bentuk jurnalistik yang menjadikan masyarakat sebagai obyek sekaligus subyek jurnalistik. Masyarakat dituntut bertanggung jawab atas ketersediaan informasi bagi mereka, sehingga informasi menjadi lebih masif di seluruh kampus dan masyarakat umum. Everyone can be a journalist, semua orang bisa menjadi jurnalis. Hal ini yang akan menjadi titik tolak kebangkitan dunia jurnalistik mahasiswa ITB.

Jurnalistik massal akan diwadahi dengan sebuah blog, yaitu suaraitb.wordpress.com yang merepresentasikan dinamika mahasiswa ITB atau yang berhubungan dengannya untuk dilihat oleh seluruh masyarakat Indonesia. Semua orang bisa mengirimkan atau mengambil isi dari blog tersebut, yang akan difasilitasi oleh editor dari komunitas Suara ITB. Norma dan etika yang berlaku adalah adaptasi dari norma dan etika jurnalistik umum, seperti independensi, cover both side, menghindari SARA, anti pornografi dan pornoaksi serta menggunakan ITB’s View. Inilah saatnya ITB mempunyai sebuah pusat informasi mahasiswa yang menggambarkan kebangkitan jurnalistik mahasiswa ITB.

Bersama Membangun Jurnalistik Kampus, Bravo Citizen Jurnalism!

Kampus ITB, 10 Desember 2005

Kominfo KM ITB, Boulevard, Pers Mahasiswa, Lentera Gamais, Radiokampus, 8EH, Ganesha TV dan didukung oleh Himpunan Mahasiswa se-ITB.

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.