<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Komunitas Media Suara ITB</title>
	<atom:link href="http://suaraitb.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://suaraitb.wordpress.com</link>
	<description>Student News Office of Institut Teknologi Bandung</description>
	<lastBuildDate>Tue, 28 Mar 2006 14:23:45 +0000</lastBuildDate>
	<language></language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='suaraitb.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Komunitas Media Suara ITB</title>
		<link>http://suaraitb.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://suaraitb.wordpress.com/osd.xml" title="Komunitas Media Suara ITB" />
	<atom:link rel='hub' href='http://suaraitb.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Sebuah Blog untuk Seribu Ungkapan:</title>
		<link>http://suaraitb.wordpress.com/2006/03/28/sebuah-blog-untuk-seribu-ungkapan/</link>
		<comments>http://suaraitb.wordpress.com/2006/03/28/sebuah-blog-untuk-seribu-ungkapan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Mar 2006 14:12:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://suaraitb.wordpress.com/2006/03/28/sebuah-blog-untuk-seribu-ungkapan/</guid>
		<description><![CDATA[Bagian 1 Pada mulanya. . . Menulis catatan yang disebut &#8220;blog&#8221; adalah hal yang lazim dikerjakan oleh para pekerja Teknologi Informasi terhadap sistem yang mereka urus. Sama jamaknya dengan budaya menulis buku harian, catatan perjalanan, editorial media, sampai dengan notulensi pertemuan organisasi. Semua tulisan yang disebut tadi dibuat berdasarkan kerangka waktu dalam melihat peristiwa. Tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraitb.wordpress.com&amp;blog=37386&amp;post=19&amp;subd=suaraitb&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>Bagian 1</h3>
<p><b>Pada mulanya. . .</b></p>
<p><b> </b></p>
<p>Menulis catatan yang disebut &ldquo;blog&rdquo; adalah hal yang lazim dikerjakan oleh para pekerja Teknologi Informasi terhadap sistem yang mereka urus. Sama jamaknya dengan budaya menulis buku harian, catatan perjalanan, editorial media, sampai dengan notulensi pertemuan organisasi. Semua tulisan yang disebut tadi dibuat berdasarkan kerangka waktu dalam melihat peristiwa.</p>
<p>Tidak ada yang baru sampai dengan ditemukan cara agar catatan-catatan tersebu lebih mudah dipublikasikan, lebih mudah dibaca orang lain, dan penulisnya memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan pembaca dengan lebih mudah.</p>
<p>Blog adalah pemenggalan dari kata weblog dan menurut tulisan Enda Nasution, istilah tersebut pertama kali digunakan oleh Jorn Barger pada 1997 [NAS]. Kendati cikal-bakal situs Web yang bercorak blog sudah muncul sebelum disebut secara spesifik oleh Barger, kondisi tekologi Web saat itu masih merupakan kendala besar. Memiliki sebuah situs Web masih merupakan kesulitan tersendiri. Hingga akhirnya pada 1999 Blogger, saat itu sebuah perusahaan rintisan,menyediakan layanan gratis dan berbayar untuk penyusunan blog. Penetrasi Blogger ini menjadi penyebab awal ledakan jumlah blog. Berbeda dengan layanan tempat hosting gratis yang sudah ada, penyedia blog tidak berbicara apa-apa tentang nama berkas atau sintaks HTML untuk menyusun sebuahWeb pribadi, melainkan menyodorkan tanggal sebagai titik-acuan. Pemakainya dapat berpikir praktis: saya hendak menuliskan catatan pada tanggal sekian.</p>
<p>Dilihat dari sisi rentang waktu hingga aktivitas blog meledak pada tahun 2004[DIR], &ldquo;sosialisasi&rdquo; blog perlu waktu sekitar lima tahun hingga diterima oleh kalangan yang sangat luas. Pada rentang waktu tersebut, blog sudah menjelma menjadi banyak kemungkinan: koleksi taut Internet &ndash; lebih variatif dibanding yang disodorkan Tim Berners-Lee, koleksi artikel &ndash; ratusan ribu orang menuliskan sikap dan memberi masukan, koleksi foto (photoblog) &ndash; pemberi semangat baru pada album foto yang sebelumnya statik, forum diskusi komunitas atau publik &ndash; menjelma menjadi ribuan Speakers&rsquo; Corner ala Hyde Park, London.</p>
<p>Kondisi kita di Indonesia saat ini: riuh-rendah blog sudah berimbas, penulisblog berjumlah lebih dari sepuluh ribu orang [DIRa], pemakai Internet sekitar dua belas juta orang, kebebasan menulis blog boleh dikatakan sejauh ini tidakada persoalan berarti, dan ongkos koneksi Internet masih mahal.</p>
<p><b>1.1 Saya menulis [di blog], maka itulah saya</b></p>
<p>Di sebuah tempat di Belanda, ada tulisan yang agaknya terinspirasi oleh ungkapan sohor Rene Descartes6, ik schrijf, dus ben ik. Motivasi terbesar bagi pemilik blog adalah mencatatkan aktivitas atau gagasannya, bukan memiliki blog. Dengan demikian, pertanyaan, &ldquo;Apakah Anda sudah memiliki blog?&rdquo;sebaiknya diganti menjadi &ldquo;Apakah Anda sudah mencatatkan sesuatu di blog?&rdquo;</p>
<p>Memiliki blog adalah pekerjaan yang sangat mudah saat ini. Setiap orang yang berbekal akses Internet dapat mengumpulkan sebanyak mungkin akun blog (representasi kepemilikan blog) yang menurutnya menarik. Namun yang lebih penting adalah kesediaannya untuk menulis. Kecintaan akan melakukan pencatatan,ketekunan untuk mengolah ide, atau kerajinan mengumpulkan hasi kerja (foto, puisi, kodE sumber</p>
<p>pemrograman, analisis di lab) inilah yang menggerakkan aktivitas blog.</p>
<p>Pada sebuah diskusi di milis (mailing list) di sekitar tahun 1998, salah seorang teman mengomentari saya bahwa email yang saya kirim selalu menggunakan&ldquo;bahasa yang indah&rdquo;. Milis yang kami ikuti &ldquo;hanya&rdquo; sebuah milis paguyuban dan pertama kali saya membaca komentar itu sambil menimbang-nimbang: apa yang dia maksudkan dengan &ldquo;indah&rdquo; di situ? Ternyata si penulis komentar mencermati kebiasaan saya yang berusaha menulis email dengan bahasa Indonesia baku. Baik sedang mengikuti diskusi serius atau sedang bercanda dimilis, saya berusaha tetap berbahasa Indonesia baku &ndash; hanya pemilihan ungkapan yang saya ganti dari serius menjadi santai, atau sebaliknya.</p>
<p>Dalam sebuah diskusi yang lain saya memperoleh testimoni yang sedikit mengagetkan:</p>
<p>ada satu atau dua anggota milis yang menyimpan tulisan saya atau sesekali mencetaknya di atas kertas (hard copy). Saya melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang melecut: segala sesuatu jika dikerjakan sungguh-sungguh dan dengan kecintaan kemungkinan besar dapat bermanfaat bagi orang lain. Artinya, saya perlu sebuah tempat penyimpanan artikel (repository) yang lebih terorganisir rapi &ndash; lebih dari sebuah milis yang repot pengelolaannya.</p>
<p>Apabila sebelumnya saya sempat menjadi pengajar materi Web dan pemrogramannya, baru pada tahun 2002 saya mulai menekuni pekerjaan mengelola situs Web dengan serius. Selain untuk keperluan organisasi yang saya ikuti, koleksi beberapa tulisan pribadi mulai saya publikasikan. Rencana yang saya susun sederhana: jika diperlukan sebagai kutipan untuk diskusi di milis misalnya, saya cukup menyebut URI kutipan. Dengan latar belakang pemrograman yang saya miliki, pemuatan sebuah artikel ke situs Web dapat dilakukan secara otomatis. Oh ya, saya mulai mengumpulkan tulisan!</p>
<p>Saat itu saya telah mendengar istilah blog terutama Blogger.com yang mulai</p>
<p>disebut-sebut di beberapa situs. Namun demikian, saya belum tertarik dengan&ldquo;gaya&rdquo; blogging yang didengung-dengungkan. Sampai akhirnya pada pertengahan tahun 2004, Hatami Nugraha, salah satu teman yang dikenalkan lewat Yahoo! Messenger, menunjukkan perangkat lunak Movable Type. Setelah saya coba menyusun templat, memindahkan artikel yang sudah ditulis, saya mulai menyadari beberapa konsep yang tersedia secara praktis di Movable Type.</p>
<p>Ditambah beberapa kunjungan ke situs-situs yang membicarakan standar Web,</p>
<p>saya merasa sudut pandang yang disodorkan alat bantu blog cocok dengan konsep Web yang saya anut. Alhasil, saya mulai menulis lewat blog karena: praktis dan konsep yang digunakan cocok dengan anggapan saya.</p>
<p><b>1.2 &ldquo;Gue banget&rdquo; hingga &ldquo;bersama kita bisa&rdquo;</b></p>
<p>Salah seorang teman yang sudah menerjemahkan belasan buku dan aktif di dunia perbukuan mengemukakan kejengahannya membaca beberapa blog yang pernah dikunjungi. &ldquo;Waktu masih remaja, kami selalu dinasehati agar buku harian disimpan baik-baik di dalam lemari. Tidak diumbar seperti cerita-cerita di dalam blog,&rdquo; demikian keberatan dia. &ldquo;Kalau demikian, kira-kira apa motivasi penulisnya?,&rdquo; saya balik bertanya. Dia menjawab dengan gaya anak muda, &ldquo;Aktualisasi diri, coy!&rdquo; Saya mendapatkan ungkapan akan kondisi tersebut yang justru tumbuh dan berkembang dalam budaya blog dan kelengkapan yang menyertainya: gue banget! Jika diamati secara sekilas, blog yang berisi catatan aktivitas harian penulisnya memang masih menempati porsi lebih besar. Sebagian malah terlihat membawa pandangan dirinya secara emosional (dari sisi perasaan) dalam takaran berlebih. Selain hal ini merupakan konsekuensi dari Internet yang bersifat terbuka dan global &ndash; yang secara otomatis diterjemahkan menjadi, &ldquo;Saya bisa berbicara kepada dunia!&rdquo; &ndash; blog sendiri sebagai perpanjangan catatan harian memang membawa diri penulisnya dengan sangat personal. Ditambah pernakpernik alat bantu blog dan kelengkapannya, tag HTML dan CSS12, dan alat-alat bantu multimedia, menjadi sebuah tuntutan untuk menyajikan blog yang menjadi representasi pengelolanya. Sebuah blog yang gue banget! dari sisi pemiliknya.</p>
<p>Sisi sebaliknya dari kondisi di atas adalah kemungkinan sangat potensial untuk mengembangkan sebuah deposit pengetahuan dan budaya publik lewat untai manik-manik publikasi personal berupa blog. Deposit publik yang dimaksud adalah tingkat kepemilikan khalayak akan pengetahuan dan budaya. Kira-kira dapat digambarkan seperti ini: teori relativitas Einstein konon sulit dijelaskan dan diterima publik &ndash; termasuk akademisi &ndash; pada tahun 1940-an, namun sekarang ini sudah menjadi sesuatu yang akrab bahkan bagi siswa sekolah lanjutan.</p>
<p>Internet datang di Indonesia tidak melewati proses yang panjang seperti halnya di negara asalnya. Masyarakat kita menerima Internet sudah pada saat era dot-com berlangsung. Semangat awal untuk berbagi seperti pada saat Internet masih berkutat di universitas dan lembaga penelitian di Amerika Serikat acapkali terlewat. Alih-alih menunggu inisiatif dari pihak-pihak besar memulai penyediaan materi yang diperlukan di Internet, momen ini bisa &ldquo;dicuri&rdquo; oleh publik sebab publikasi materi lewat Web secara swadaya bukan sesuatu yang muskil.</p>
<p>Yah, seperti jargon sebuah partai, &ldquo;Bersama Kita Bisa&rdquo;.</p>
<p><span id="more-19"></span></p>
<p><b>Bagian 2</b></p>
<p><b>Baca, baca, ketik, dan posting</b></p>
<p><b> </b></p>
<p>Kendati tidak serta-merta mengganti (malah melengkapi) membaca buku, kegiatan berjalan-jalan menelusuri blog &ndash; dikenal dengan istilah blogwalking &ndash; termasuk bagian dari inisiatif menumbuhkan budaya baca. Dari salah satu pengambilan data disebutkan bahwa untuk setiap halaman blog pengunjung menghabiskan waktu pada kisaran 37 sampai 96 detik [LIV]. Topik yang sedemikian beragam dari kunjungan antar-blog tersebut memang sulit dibandingkan dengan membaca buku yang lebih komprehensif dalam membahas sebuah persoalan. Selain itu, sebagian pengunjung datang dalam konteks &ldquo;sosialisasi&rdquo; dan dengan perkembangan teknologi multimedia saat ini blog sudah melebar ke media berbasis audio-visual.</p>
<p>2.1 Para pengupaya budaya baca</p>
<p>Berdasarkan sigi yang pernah dilakukan oleh Nita Yuanita pada tahun 2004, &ldquo;posting tetap penting.&rdquo; [DIRb] Walaupun &ldquo;isi blog&rdquo; dapat dalam bentuk aneka media, sejauh ini teks masih dominan. Lebih-lebih di negara ini, tempat koneksi Internet berharga mahal, kompromi terhadap keadaan adalah dengan memaksimalkan teks.</p>
<p>Pada bagian ini &ndash; seringkali tanpa melalui teori yang terlalu muluk &ndash; penulis penulis</p>
<p>blog bersentuhan dengan kaidah-kaidah penulisan materi, mulai dari bentuk-bentuk sintaksis seperti ejaan, penggunaan tata bahasa, sampai pertimbangan sudut pandang materi seperti halnya sisi jurnalistik atau kesusastraan.</p>
<p>Dengan target dibaca lebih banyak pengunjung dan dirujuk situs Web lain (barangkali inilah &ldquo;tiras&rdquo; untuk ukuran blog), penulis blog secara tidak langsung mengajak pengunjung untuk lebih banyak membaca lagi. Tidak berlebih jika terdapat beberapa alat bantu untuk memudahkan merunut rujukan yang tersedia berpencaran.</p>
<p>Selain memang terdapat beberapa penulis blog dan komunitasnya yang mengkhususkan pada pembicaraan di sekitar buku yang tentu mendorong langsung peminatnya untuk membaca. Kelompok ini &ndash; termasuk juga &ldquo;warisan lama&rdquo; dalam bentuk forum di milis &ndash;sempat disorot beberapa kali di media massa cetak akhir-akhir ini.</p>
<p>2.2 Apakah perhelatan akan terus berlanjut?</p>
<p>Beberapa layanan di Internet memang mati di tengah jalan digantikan olehsesuatu yang lebih baik. Misalnya Gopher yang nyaris tidak ditemukan lagi saat ini; atau, dalam bentuk lain, Newsgroups yang dulu merupakan forum akbar sekarang bermetamorfosis menjadi berbasis Web dan fungsinya sudah tertinggal digantikan milis.</p>
<p>&ldquo;Sesuatu yang lebih baik&rdquo; di atas diberi penekanan karena seperti halnya budaya yang dibawa atau diakibatkan oleh Internet lainnya ternyata tidak pupus begitu saja.  Kemungkinan besar alat bantu dan lingkungan pendukung aktivitas blog akan berubah mengikuti tren teknologi, namun aktivitas blog akan terus berlanjut. Prediksi ini tidak berlebihan jika dilihat infrastruktur untuk aktivitas blog sudah berjalin-berkelindan. Komunitas penulis blog pun sudah menyelenggarakan berbagai even baik untuk menguatkan kondisi yang sudah terbentuk ataupun memperluas kegiatan ini kepada para pendatang baru.</p>
<p>Aktivitas blog lebih mungkin padam jika pelakunya mundur dibanding disebabkan</p>
<p>penilaian orang lain. Tinggal sekarang cara mengubah penilaian tersebut dan saya usulkan pendekatan pragmatis: blog harus bermanfaat bagi orang lain jika ia memang ingin berakar, bersemai, dan tumbuh pada banyak kalangan. Investasi untuk blog yang besar &ndash; jika diingat jumlah penggunanya sudah masuk kisaran sepuluh ribu &ndash; sudah sepatutnya menghasilkan imbal balik yang positif bagi masyarakat luas.</p>
<p><a href="http://direktif.web.id/" target="_blank">Ikhlasul Amal</a></p>
<p>Disampaikan pada diskusi &quot;Fenomena Blog Dalam Realitas Sosiokultural&quot;, PBT ITB 2006</p>
<p>Campus Center, 24 Maret 2006</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/suaraitb.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/suaraitb.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suaraitb.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suaraitb.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suaraitb.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suaraitb.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suaraitb.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suaraitb.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suaraitb.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suaraitb.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suaraitb.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suaraitb.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suaraitb.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suaraitb.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suaraitb.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suaraitb.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraitb.wordpress.com&amp;blog=37386&amp;post=19&amp;subd=suaraitb&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraitb.wordpress.com/2006/03/28/sebuah-blog-untuk-seribu-ungkapan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fbfa5d60e8e82c106563a0412437e9c1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">editor</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ADISI: “Quo Vadis Kebebasan Pers”</title>
		<link>http://suaraitb.wordpress.com/2006/03/23/adisi-%e2%80%9cquo-vadis-kebebasan-pers%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://suaraitb.wordpress.com/2006/03/23/adisi-%e2%80%9cquo-vadis-kebebasan-pers%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Mar 2006 11:48:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraitb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://suaraitb.wordpress.com/2006/03/23/adisi-%e2%80%9cquo-vadis-kebebasan-pers%e2%80%9d/</guid>
		<description><![CDATA[Jum’at, 3 Maret 2005 HATI (Harmoni Amal Titian Ilmu) ITB mengadakan ADISI (Ajang Dialog Seputar Islam) dengan tema “Quo Vadis Kebebasan Pers”. Diskusi dengan nara sumber Trian H.A (Menkominfo Kabinet KM ITB), Jofardhana (PU Boloulevard), Amandra (PU Persma), Ageng (HATI) menggunakan studi kasus kartun Nabi Muhammad yang dimuat pada Jyllands-Posten Denmark tangal 30 September 2005 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraitb.wordpress.com&amp;blog=37386&amp;post=18&amp;subd=suaraitb&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jum’at, 3 Maret 2005 HATI (Harmoni Amal Titian Ilmu) ITB mengadakan ADISI (Ajang Dialog Seputar Islam) dengan tema “Quo Vadis Kebebasan Pers”. Diskusi dengan nara sumber Trian H.A (Menkominfo Kabinet KM ITB), Jofardhana (PU Boloulevard), Amandra (PU Persma), Ageng (HATI) menggunakan studi kasus kartun Nabi Muhammad yang dimuat pada <i>Jyllands-Posten</i> Denmark tangal 30 September 2005 dan maraknya media-media pornografi, termasuk isu Playboy Indonesia.</p>
<p>Andra memulai diskusi dengan memeparkan awal mula kadimuatnya kartun tersebut. Kartun Nabi yang berjumlah 12 dimuat karena redaktir budaya <i>Jyllands-Posten</i> ingin membantu sebuah permintaan penggambaran Muhammmad untuk anak-anak. Redaktir itu sendiri sebenarnya tahu bahwa kartun tersebut adalah hal yang sensitif, dan dilarang dalam Islam. Tapi karena dalihnya membantu, maka dia meminta kepada anyak karikaturis untuk menggambarkannya. Dan akhirnya, muncullah 12 kartun tersebut.</p>
<p>Ketika kartun tersebut dimuat <i>Jyllands-Posten</i>, umat muslim Denmark lansgung melancarkan proytes. Tapi dengan alasan kebebasan pers, protes tersebut tidak diindahkan bahkan juga oleh pemerintah Denmark. Kemudian isu semakin bergulir, dan mulai januari 2006 banyak media dunia (kalau di indnesia, Republika) yang menuliskan laporan kartun tersebut. Akhirnya, banyak pula umat muslim seluruh dunia yang memprotes dengan melakukan demo, perbuatan merusak kantor kedubes Denmark atau pemboikotan produk Denmark.</p>
<p>Jadi, apakah kebebasan pers? Menurut Jofa, kebebasa pers adalah hak bebas, tidak terikat yang dimiliki oleh pers dalam melakukan tugas jurnalistik. Andra menambahkan, bahwa dengan adanya hak maka disertai dengan adanya kewajiban pula. Kewajiban untuk manjaga perasaan pihak-pihak yang kemungkinan besar menimbulkan kebencian, terutama dalam isu-isu yang <i>touchy.</i></p>
<p>Trian kemudian memaparkan panjang lebar tentang asal muasal kebebasan pers. Dengan berkaca pada sejarah pers Amerika Serikat, di era <i>Aufklarung</i> abad 17 banyak bermunculan teori-teori yang menjunjung humanisme. Kebebasan adalah hak dasar (tidak bisa digangu gugat) yang dipunyai setiap manusia sejak lahir, pun demikian dengan pers juga punya kebebasan mutlak. Kebenaran diyakini berserakan di masyarakat yang harus selalu dicari dengan pemikiran-pemikiran sehingga kebenaran bisa didapatkan. Dan pers berfungsi untuk senantiasa merekonsruksi kebenaran tersebut. Walupun tetap menggunakan batas, yaitu tidak ada maaf bagi pers yang melakukan pemalsuan. Teori tersebut dikenal dengan teori libertarian.</p>
<p>Adanya aksi menimbulkan reaksi. Timbulah teori tanggung jawab sosial sebagai reaksi teori libertarian. </p>
<p>Teori tanggung jawab sosial menggunakan “fakta”  teori evolusi darwin, relativitas einsten dan behavioralisme freud. Evolusi mengtakan bahwa manusia selalu berubah, sehingga kebenaran itu sendiri juga berubah. Dengan relativitas, kita melihat segala sesuatu sebagai relatif-tidak ada yang mutlak. Sedangkan behavioralime mengatakan baha manusia dlam bertindak banyak yang tidak menggunakan rasio (rationalismless), sehingga pencarian kebenaran menggunakan pikiran tidak tepat. Disamping itu, kekuatan demokrasi, revolusi ekonomi dan teknologi sangat mempengaruhi pers yang tidak bisa menjadikan pers benar-benar murni, tidak dipengaruhi apapun.</p>
<p>Kemudian, munculah definisi baru tentang kebebasan pers, yaitu dengan dua poin bahwa adanya hak pubil untu tahu dan adanya tanggung jawab pers. Dengan dua hal tersebut, konsepsi kebebasan yang semula berada di individu berpindah ke masyarakat. Pers juga berperan dalam mengaitkan nilai masyarakat. Dalam kata lain, pers harus arif menggunakan hak kebebasannya.</p>
<p>Mengenai studi kasus, kartun Nabi menggambarkan bahwa pers tidak arif menggunakan kebebasan pers. Yang hadir pun bersepakat, bahwa kartun itu tidak tepat bila diletakan dalam kerangka kebebasan pers kaena menyentuh hal yang esensial, agama. Majalah Playboy dan majalah-majalah <i>mesum</i> lainnya, menurut pemicara bukanlah pers. Pers lebih banyak porsi informasi, menyampaikan pada masyarakat, bukan gsoip, infotainment atau pornografi. Apalagi dalam budaya dan agama, majalah-majalah tersebut sangat tidak sesuai.</p>
<p>Ageng mengajak peserta diskusi pada perang pemikiran barat terhadap islam. Kenapa dalam kartun tersebut, Nabi digambarkan sebagai sosok pembawa bom-teroris. Menurutnya, kartu  tersebut bisa merupakan pancingan kepad umat Islam. Pers di barat, adalah alat propaganda. Dibuktkan dalam isu invasi AS di irak. Pers di AS memprogandakan kepada masyarakatnya bahwa Iraq adalah negeri yang berbahaya, sehingga rakyat AS tidak menolak invasi AS ke Iraq. Sehingga, kebebasan pers sendiri di AS tidak agung (buktinya AS adalah negara terbesar ke-5 di dunia yang memenjarakan wartawan, no 1 adalah Cina). Di sisi lain,  kebebasan terkungkung oleh kebebasanya itu, yaitu dengan mendengung-engungkan kebebasan, bukan kebenarannya.</p>
<p>Diskusi diakhiri dengan kesepakatan bahwa kebebasan pers perlu dan dibutuhkan. Namun, dibutuhkan tanggung jawab dan kearifan dalam menggunakan kebebasan tersebut. Karena fenomena pers saat ini tidak lepas dari misi yang dibawa oleh media pers tersebut. Hegemoni informasi dan perang pemikiran harus dilawan oleh umat islam dengan kekuatan yang sama. Munculnya kemarahan adalah hal yang wajar, tapi yang lebih dipikirkan sekarang adalah bagaimana umat islam bisa menandingi  bahkan melebihi hegemoni tersebut.</p>
<p>Oleh: Trian H.A (Menkominfo Kabinet KM ITB)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/suaraitb.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/suaraitb.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suaraitb.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suaraitb.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suaraitb.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suaraitb.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suaraitb.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suaraitb.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suaraitb.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suaraitb.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suaraitb.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suaraitb.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suaraitb.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suaraitb.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suaraitb.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suaraitb.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraitb.wordpress.com&amp;blog=37386&amp;post=18&amp;subd=suaraitb&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraitb.wordpress.com/2006/03/23/adisi-%e2%80%9cquo-vadis-kebebasan-pers%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/445c7add9966d3cf8a71e137388a7a42?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">suaraitb</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bedah Buku: Confession of An Economic Hitman dan Imperial Ambition</title>
		<link>http://suaraitb.wordpress.com/2006/03/23/bedah-buku-%c2%93confession-of-an-economic-hitman%c2%94-dan-%c2%93imperial-ambition/</link>
		<comments>http://suaraitb.wordpress.com/2006/03/23/bedah-buku-%c2%93confession-of-an-economic-hitman%c2%94-dan-%c2%93imperial-ambition/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Mar 2006 11:39:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraitb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://suaraitb.wordpress.com/2006/03/23/bedah-buku-%c2%93confession-of-an-economic-hitman%c2%94-dan-%c2%93imperial-ambition/</guid>
		<description><![CDATA[Dua buku Internasional yang kontroversial berpadu dalam sebuah forum ilmiah bedah buku Confession of An Economic Hitman (CoAEH) yang ditulis John Perkins dan Imperial Ambition (IA) yang ditulis Noam Choamsky. Membedah kedua buku tersebut berarti membedah kebencian kepada negara Amerika Serkat, sebuah negara adidaya makmur berumur ratusan tahun yang dibangun di atas mayat ratusan Indian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraitb.wordpress.com&amp;blog=37386&amp;post=17&amp;subd=suaraitb&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua buku Internasional yang kontroversial berpadu dalam sebuah forum ilmiah bedah buku Confession of An Economic Hitman (CoAEH) yang ditulis John Perkins dan Imperial Ambition (IA) yang ditulis Noam Choamsky. Membedah kedua buku tersebut berarti membedah kebencian kepada negara Amerika Serkat, sebuah negara adidaya makmur berumur ratusan tahun yang dibangun di atas mayat ratusan Indian dan budak Afrika. Menurut kedua buku tersebut, Amerika terus membangun negerinya agar lebih makmur, tentu saja dengan mencari calon mayat baru. Di negeri lain tentunya.</p>
<p>Acara bedah buku dilangsungkan pada hari Jumat tanggal 17 Februari 2006 di Aula Barat ITB. Acara yang dijadwalkan dibuka pada pukul 13.00 ini mulai dibuka 20 menit lebih telat dari jadwal. Acara ini diselenggarakan oleh Departemen Sosial Politik KM ITB. Untuk menyemarakkan acara ini, diundanglah nama  nama besar sebagai pembicara. Mereka adalah KH Abdurrahman Wahid yang popular dipanggil Gus Dur (mantan presiden Indonesia),  Dr. Jalaludin Rakhmat (pakar komunikasi), Dr. Dimitri Mahayana (akademisi ITB), Dr. Revrisond Baswir (Guru Besar UGM), dan Dr. Haidar Bagir (Direktur Eksekutif Mizan). Yang disebutkan terakhir menjadi <i>keynote speaker</i> dalam acara tersebut. Namun, pada saat pembukaan, belum semua pembicara yang diundang hadir. Terlihat pula Gus Sholah (Sholahuddin Wahid) hadir dalam acara tersebut. Ternyata beliau menjadi pembicara menggantikan Gus Dur yang berhalangan untuk hadir. Rencananya pula, rektor ITB, Drs. Djoko Santoso, diundang untuk menyampaikan sambutan, namun beliau berhalangan hadir sebab beliau sedang melakukan perjalanan ke Jogjakarta. Sambutan kemudian disampaikan oleh seseorang dari rektorat.</p>
<p>Haidar Bagir, yang juga alumni Teknik Industri ITB, yang menjadi pembawa acara atau <i>keynote speaker</i> dalam acara tersebut mempersilakan pembicara lainnya untuk duduk di kursi di atas panggung yang telah disediakan panitia. Beliau menerangkan sedikit tentang kedua buku yang akan di bedah dan latar belakang penulisnya. John Perkins adalah seorang kaya penganut samanisme. Juga mantan preman saham yang dibayar untuk mendesak negara miskin dan berkembang, termasuk Indonesia, untuk melakukan peminjaman uang yang tak mungkin terbayarkan kepada negara adidaya. Noam Choamsky adalah seorang ahli bahasa, seorang <i>linguist</i>. Dia juga adalah seorang Amerika yang kontroversial, kritis, dan berhaluan kiri. Dia menulis banyak buku, namun bukunya hanya akan ditemukan di toko  toko buku alternative dan disimpan di basemen. Dia berkata bahwa teroris nomor satu adalah Amerika dan yang paling pantas di invasi oleh Amerika adalah Washington DC. Setelah berurai singkat seperti demikian, Haidar mempersilakan pembicara untuk memberikan presentasi selama kurang lebih 20 menit.</p>
<p>Presentasi pertama dibawakan oleh Gus Sholah. Pertama  tama, alumni Arsitektur ITB  ini menerangkan bahwa Gus Dur sedang melakukan ruwat ke Jogjakarta. Saya alumni ITB, itu kelebihan saya dibanding Gus Dur, ujar mantan calon wapres ini disambut gelak beberapa hadirin. Sambil membaca teks, Gus Sholah menerangkan bahwa wajar  wajar saja jika kini, seperti dalam buku CoAEH, Indonesia dikerjai habis  habisan oleh negara lain terutama negara  negara Eropa dan Amerika sebagai taktik ekspansi ekonomi negara  negara maju tersebut. Masalahnya adalah: Mau tidak kita dikerjai oleh mereka?</p>
<p>Gus Sholah mengambil contoh Venezuela, salah satu negara eksportir minyak terbesar. Namun kondisi rakyatnya melarat. Amerika Serikat pun terus  terusan menekan negara di tanah latin itu secara ekonomi. Hingga akhirnya Hugo Chavez muncul dan mengubah kebijakan pemerintahan tatkala menjadi presiden. Dia adalah seseorang yang kelak dianugerahi Nobel Perdamaian. Hugo Chavez berusaha melepaskan Venezuela dari tekanan Amerika Serikat. Berkat dukungan rakyatnya, Hugo Chavez yang tidak memiliki mesin politik yang baik dan tidak menguasai media berhasil bertahan setelah beberapa kali pemilu, dikudeta, dan referendum. Jadi, menurut Gus Sholah, permasalahannya bukanlah siapa yang mengerjai atau menyerang kita, tetapi kemauan kita (terutama pemerintah) untuk memberontak.</p>
<p>Dimitri Mahayana, yang merupakan lulusan <i>cum laude</i> Teknik Elektro ITB, melanjutkan acara dengan presentasinya membahas buku IA karangan Noam Choamsky. Dimitri menjelaskan tentang a new norm, semacam taktik ideologis yang dipropagandakan oleh pemerintah Amerika kepada negara lain guna mendukung langkah imperialistisnya. Seperti dalam kasus invasi ke Irak dan Afghanistan, pemerintah Amerika mendoktrin publik dunia dengan norma yang mereka buat sendiri. Melalui propaganda yang gencar dan massal, Amerika mengarahkan publik dunia untuk sama  sama berpikir bahwa Amerika benar dan Irak salah. Pada akhirnya publik dunia mendukung langkah Amerika. Propaganda inilah senjata favorit Amerika.</p>
<p>Propaganda adalah salah satu cara yang efektif untuk mengarahkan pikiran manusia, menjadikan mereka seperti robot yang mudah diperintah berbuat apa saja. Dengan penguasaan Amerika terhadap media dan pengaruhnya terhadap media lokal negara lain, propaganda Amerika terbukti sukses merubah persepsi masyarakat terhadap suatu hal. Contohnya adalah sebuah polling di Amerika tentang apakah Irak sebuah ancaman. Pasca tragedi WTC, peserta polling yang setuju bahwa Irak adalah ancaman hanya 3%. Satu tahun setelah dilakukan propaganda, angka tersebut naik menjadi 50%-60%. Menurut Dimitri, untuk menghadapai propaganda kita harus kritis. Karenanya, kita memerlukan sistem pendidikan yang dapat mendukung terhadap pengembangan kesadaran kritis ini.</p>
<p>Selanjutnya, Revrisond Baswir, guru besar UGM dan aktivis Koalisi Anti Utang, menambah suasana panas di Aula Barat ITB. Marilah kita ubah forum ilmiah ini jadi forum perjuangan menuju perubahan, kata beliau. Beliau memaparkan tentang sejarah utang di negeri ini, dari awal rencana berutang pada tahun 1945, pengajuan proposal utang luar negeri pertama Indonesia, pencairan dana utang luar negeri  pertama kepada Indonesia pada tahun 1950, hingga kini saat Indonesia masih menjadi mainan bagi <i>economic hitman</i>. Sejak awal cairnya utang luar negeri kepada Indonesia, pemerintah sudah dibebani dengan berbagai macam persyaratan. Pada saat utang dari Amerika sebanyak 100 juta US dolar tahun 1950, Indonesia diharuskan mendukung Vietnam Selatan yang didukung Amerika saat perang saudara Vietnam. Saat Indonesia berutang kembali tahin 1952 bertepatan dengan masa perang Korea, Indonesia diharuskan mengembargo karet ke Korea. Semasa demokrasi terpimpin, Presiden Soekarno seringkali menentang usaha-usaha pihak asing untuk mengatur negara kita. Lalu presiden Soekarno dijatuhkan lewat tangan orang Indonesia sendiri. Lalu lahirlah pemerintahan kaki tangan Amerika Serikat yang bernama Orde Baru. Meski orde baru telah berakhir, permainan Amerika Serikat belum berakhir. Pemerintah Indonesia tidak cukup berani untuk melawan Amerika Serikat. Pada akhir presentasi, Baswir melayangkan pertanyaan: apakah kita masih merdeka? Maka menurutnya, negara kita yang masih belum bebas dari penguasaan bangsa asing ini perlu diproklamasikan sekali lagi kemerdekaannya. Karena Soekarno mahasiswa UTB, maka mahasiswa ITB harus memproklamasikan Indonesia kedua kalinya! Kalo nggak, diambil mahasiswa UGM., ujar beliau menutup presentasinya.</p>
<p>Jalaludin Rakhmat yang sudah berada di atas panggung, melanjutkan acara seminar dengan penuh senda gurau. Beliau bercerita lebih jauh tentang Noam Choamsky sebagai sesama pakar komunikasi. Beliau banyak menyanjung  nyanjung Noam dan mengatakan bahwa Noam adalah <i>the most unamerican american</i> dan <i>unjewish jew</i>. Meski hanya menambahkan beberapa poin dan cerita presentasinya cukup memperkaya wawasan.</p>
<p>Seusai presentasi dari para pembicara, forum diskusi tanya jawab digelar dan penonton pun mulai beranjak pulang. Aula Barat mulanya penuh hingga kursi yang disediakan panitia pun tidak cukup, sehingga panitia berinisiatif untuk mempersilakan penonton yang tidak kebagian kursi untuk duduk lesehan di depan panggung. Saat forum diskusi, Aula Barat menjadi lenggang. Padahal, banyak materi menarik yang dibahas pada forum tersebut. Pertanyaan yang bervariasi memperkaya lingkup bahasan sehingga ilmu yang diapat semakin banyak. Beberapa pertnyaan disampaikan dengan menggebu  gebu, memojokkan pembicara, bahkan ada yang membaca puisi sebelum bertanya.</p>
<p>Hingga Amerika belum selesai dengan permainannya, pembicaraan ini tidak akan berakhir. Tema ini membutuhkan suatu langkah pencerdasan yang nyata yang selanjutnya akan menjadikan sebuah gerak perlawanan terhadap imperialisme, kolonialisme, dan kapitalisme. Sehingga permainan Amerika dan negara maju pun berakhir. Jika tidak maka kitalah yang akan berakhir, <i>game over.</i></p>
<p>oleh: Fajar Fauzi Hakim</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/suaraitb.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/suaraitb.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suaraitb.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suaraitb.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suaraitb.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suaraitb.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suaraitb.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suaraitb.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suaraitb.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suaraitb.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suaraitb.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suaraitb.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suaraitb.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suaraitb.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suaraitb.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suaraitb.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraitb.wordpress.com&amp;blog=37386&amp;post=17&amp;subd=suaraitb&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraitb.wordpress.com/2006/03/23/bedah-buku-%c2%93confession-of-an-economic-hitman%c2%94-dan-%c2%93imperial-ambition/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/445c7add9966d3cf8a71e137388a7a42?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">suaraitb</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku Bukan Fanatik Jaket Warna-Warni</title>
		<link>http://suaraitb.wordpress.com/2006/03/23/aku-bukan-fanatik-jaket-warna-warni/</link>
		<comments>http://suaraitb.wordpress.com/2006/03/23/aku-bukan-fanatik-jaket-warna-warni/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Mar 2006 11:19:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraitb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://suaraitb.wordpress.com/2006/03/23/aku-bukan-fanatik-jaket-warna-warni/</guid>
		<description><![CDATA[Kerap kali kita temukan jika kita berjalan-jalan di lingkungan kampus ITB, banyak sekali mahasiswa ITB yang dengan bangga memakai &#8220;jaket&#8221; warna-warni. Dan dari situ kita dapat melihat bahwa manusia ITB senang sekali dengan apa yang namanya organisasi atau kelompok dan bangga dengannya. Kenapa sih manusia ITB suka sekali mengkotak-kotakan diri? Mari kita menilik lagi dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraitb.wordpress.com&amp;blog=37386&amp;post=16&amp;subd=suaraitb&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kerap kali kita temukan jika kita berjalan-jalan di lingkungan kampus  ITB,  banyak sekali mahasiswa ITB yang dengan bangga memakai &#8220;jaket&#8221;  warna-warni.  Dan dari situ kita dapat melihat bahwa manusia ITB senang sekali dengan  apa  yang namanya organisasi atau kelompok dan bangga dengannya.</p>
<p>Kenapa sih  manusia  ITB suka sekali mengkotak-kotakan diri? Mari kita menilik lagi dari  awal  manusia ITB masuk ke kampus &#8220;kotak-kotak&#8221;, pertama-tama mereka pasti  mengikuti  orientasi kampus yang biasa disebut OSKM. Dalam OSKM ini, para manusia  baru  tersebut di indoktrinasi dengan apa yang namanya satu ITB ITB satu,  perjuangan, rakyat kecil, dan sebagainyalah. Nah tahap kedua sebelum  menjadi  manusia ITB seutuhnya, setelah melewati masa OSKM dengan sukses, mereka  masuk  ke jurusan masing-masing yang biasanya di dalamnya ada yang namanya  himpunan  mahasiswa(HIMA), Lembaga dakwah departemen (LDD) dan para Swasta. Nah  disini  manusia setengah ITB, memilih lagi, apakah mereka akan ikut masuk  himpunan (biasanya wajib), atau pilih yang lebih rohani (LDD). Yang ketiga,  tentunya  mereka akan memilih, biasanya banyak yang memilih himpunan ketimbang  LDD,  karena lebih konservatif dan liberal, tidak seperti LDD yang kesannya  introvert dan ekstrimis.</p>
<p>Di dalam pelaksanannya, baik HIMA maupun LDD  membutuhkan adanya kaderisasi. Nah disinilah perang doktrin terjadi,  apa yang  sudah dikonsepkan oleh para panitia OSKM kembali buyar karena adanya  perbedaan &#8220;input&#8221; yang diberikan oleh kedua organisasi. Setelah  melewati  kaderisasi dan paham sedikit mengenai seluk beluk ITB, maka dengan itu  disahkanlah mereka sebagai manusia ITB sepenuhnya. Dan ujung-ujungnya,  seperti  yang telah saya tulis diatas, banyak manusia ITB memakai &#8220;jaket&#8221;  warna-warni  sebagai lambang eksistensi dan kebanggaan serta fanatisme golongan.</p>
<p>Ditambah  lagi dengan adanya pergeseran paham yang setiap tahun rasa persatuan  dan  kebanggaan terhadap ITB semakin menurun, sehingga sekarang ini manusia  ITB  dengan mudahnya membentuk organisasi dan membuat jaket atau tidak  peduli sama  sekali. Dimanakah rasa persatuan para manusia ITB tersebut kepada  almamaternya  ini? Dimanakah rasa bangga terhadap ITB? Saya sangat menyayangkan hal  tersebut  karena jangan sampai kita kelihatan bagus di luar tapi jelek didalam,  ingat  kita termasuk sebagai 3 kampus terbaik di Indonesia. Contohlah UI  dengan  slogan The Yellow Jacket nya, mana ITB?</p>
<p>Nama : Aditya Prabowo<br />
NIM : 19004107<br />
Kominfo KM ITB</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/suaraitb.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/suaraitb.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suaraitb.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suaraitb.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suaraitb.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suaraitb.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suaraitb.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suaraitb.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suaraitb.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suaraitb.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suaraitb.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suaraitb.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suaraitb.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suaraitb.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suaraitb.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suaraitb.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraitb.wordpress.com&amp;blog=37386&amp;post=16&amp;subd=suaraitb&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraitb.wordpress.com/2006/03/23/aku-bukan-fanatik-jaket-warna-warni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/445c7add9966d3cf8a71e137388a7a42?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">suaraitb</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Industri Media</title>
		<link>http://suaraitb.wordpress.com/2006/03/22/industri-media/</link>
		<comments>http://suaraitb.wordpress.com/2006/03/22/industri-media/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Mar 2006 07:48:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraitb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://suaraitb.wordpress.com/2006/03/22/industri-media/</guid>
		<description><![CDATA[Mengenang saat mengunjungi MEMI 2006 (MEMI akronim dari: aku lupa M yang pertama kepanjangannya apa, kelanjutannya adalah Exhibition Media Industry) pada 11 Februari 2006 lalu di Sabuga seperti mengingat saat kebenaran dan ketenaran berbaur. Tanpa garis merah. Di sanalah pers menampakkan dua sisi besarnya: sebagai media informasi yang mengungkap kebenaran dan media hiburan yang menjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraitb.wordpress.com&amp;blog=37386&amp;post=14&amp;subd=suaraitb&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font size="3" face="Times New Roman"> </font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"> </font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"> </font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"> </font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"> </font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"> </font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"> </font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Mengenang saat mengunjungi MEMI 2006 (MEMI akronim dari: aku lupa M yang pertama kepanjangannya apa, kelanjutannya adalah Exhibition Media Industry) pada 11 Februari 2006 lalu di Sabuga seperti mengingat saat kebenaran dan ketenaran berbaur. Tanpa garis merah. Di<br />
sanalah pers menampakkan dua sisi besarnya: sebagai media informasi yang mengungkap kebenaran dan media hiburan yang menjadi perantara ketenaran.</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Acara yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional yang jatuh pada tanggal 9 Februari ini juga bertepatan dengan ulang tahun Persatuan Wartawan Indonesia yang ke-60. Berlangsung dari tanggal 9-12 Februari 2006, sajian utama acara ini adalah eksibisi, pameran dari berbagai perusahaan yang bergerak di bidang industri media. Tak kurang dari puluhan perusahaan dan instansi memampangkan produk-produknya dalam stand-stand. Perusahaan dan instansi yang berpartisipasi dalam pameran ini antara lain Pikiran Rakyat, Reuteur, Antara, Metro Group, Media Nusa Citra, Starvision, Multivision Plus, Radio Republik Indonesia, Departemen Komunikasi dan Informasi, SCTV dan Indosiar. Selain itu, tentu masih banyak lagi pemain kawakan di dunia informasi dan pers Indonesia yang urun rembug. Bahkan ada pula perusahaan non-media industri yang ikut. Namun beberapa perusahaan media terkenal seperti Jawa Pos Group dan Republika tidak terlihat dalam pameran tersebut.</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Untuk menyemarakan pameran, beberapa perusahaan mengadakan berbagai acara di stand mereka masing-masing atau di panggung utama. Seperti Starvision yang menyebarkan formulir casting untuk menjadi bintang sinetron, Indosiar yang mengadakan lomba presenter berita, RRI yang mengundang Aa Gym untuk berbincang mengenai RUU pornografi, dan Multivision Plus yang mengadakan jumpa fans dengan sejumlah artis-artis tenar. Berbagai fasilitas disediakan peserta pameran untuk menarik pengunjung. Hampir di setiap sudut Gedung Sabuga terdapat layar komputer atau layar TV, koran atau majalah gratis, dan ruang baca. Bahkan MNC menampilkan 4 buah TV layar lebar yang disusun menjadi layar besar dengan panggung lebar di depannya..</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Saya berkunjung ke pameran pada hari Sabtu tanggal 11 Februari 2006, setelah sebelumnya berjalan kaki dari Sariwangi ke Taman Sari. Pameran ini sangat megah. Memasuki pintu utama, pengunjung sudah disuguhi, panggung kecil yang selalu diramaikan oleh acara-acara baik berupa kuis atau jumpa fans. Stand-stand memenuhi sayap kiri dan kanan Sabuga, bahkan auditorium pun digunakan sebagai kawasan elit tempat stand-stand elit berpameran. Pengunjung cukup banyak dan ini mengakibatkan pameran berlangsung begitu ramai.</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Yang terpikir pertama kali saat berkunjung ke pameran ini adalah bahwa isinya adalah organisasi dan perusahaan jurnalistik, salah satu pihak yang mengakibatkan globalisasi berlangsung di dunia dengan loncatan informasi yang berlangsung cepat. Tapi ternyata yang saya dapati adalah yang saya lupakan. Bahwa industri media mencakup juga industri media hiburan yang mengakibatkan para artis (terlebih aktris dan actor sinetron) bertebaran di muka bumi. Saya sendiri baru melihat artis dalam acara terebut saat akan pulang dari pameran. Sepintas saya melihat Sultan Djorghi menaiki panggung kecil di depan pintu masuk. Sebelumnya ketika pertama masuk dan berjalan di koridor kiri, presenter Turis Dadakan, seorang bule dengan ransel dan gaya turis, berlari sepanjang koridor sambil mengucapkan kata-kata yang tak kudengar jelas.</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Jelas sebagian pengunjung adalah orang yang ingin bertemu artis pujaannya, ingin jadi artis juga, ingin mencari hiburan, ingin datang saja, atau ingin mendapat barang-barang gratisan. Orang-orang yang lebih serius berpikir bahwa pameran ini adalah ajang pencarian informasi dan pemantauan terhadap dunia media informasi di Indonesia khususnya. Saya termasuk orang yang serius tersebut, sekalian saya ingin menyalurkan hobi saya sebagai pengumpul pamflet dan barang atau bacaan gratisan yang bermanfaat. Juga, saya ingin membuktikan sekali lagi bahwa kertas mempunyai massa juga, jika ditumpuk di dalam tas maka akan cukup untuk melatih otot pundak dan punggung.</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Saya harap tahun depan saya masih dapat menikmati pameran serupa. Terlebih saat ini dunia media informasi menjadi perbincangan dan perdebatan batin tersendiri bagi saya. Seperti yang saya tuliskan di awal, bahwa pameran tersebut adalah pergumulan antara kebenaran dan ketenaran. Mungkin sebuah ketenaran adalah kebenaran juga. Sayang, ketenaran saat ini kebanyakan dibentuk dari sebuah budaya kekerasan yang berarti pembentukan terhadap kekerasan baru juga. Padahal media informasi berarti menyebarluaskan kebenaran dan mencerdaskan orang.</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"> </font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Pernyataan di atas mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang. Saya yang 6 tahun lalu mungkin juga merasa itu adalah sebuah omong kosong. Sampai kehidupan mempertemukanku dengan wacana kekerasan media. Saat kebanyakan iklan terutama iklan kosmetik dan perawatan kulit selalu memandang bahwa penonton iklan adalah tidak sesempurna bintang iklannya. Katakanlah yang tidak sesuai dengan bintang iklan adalah jelek. Atau saat saya melihat puluhan makian dan tamparan melayang dari sinetron-sinetron. Atau saat privasi tokoh yang tidak penting bagi kebangkitan moral di negeri ini dikorek, hal tabu disebarkan, dan agama di-overmistisasi. Masih banyak produk media yang pelan dan diam-diam menjadi candu serta mendoktrin kita dengan propaganda-propaganda yang menjauhkan manusia dari fitrahnya.</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Saya memang bukan pengamat media, saya kurang ahli berbicara seperti tadi. Namun saya selalu miris ketika sadar dan menyaksikan hal-hal yang telah diperbuat sisi gelap media. Akhirnya, setelah berdiskusi dengan seorang kawan, saya mendapatkan tiga hal yang bisa dipraktikkan. Pertama, jadilah orang kritis, bersikap dewasa dan tahu mana yang baik, yang benar, dan yang buruk. Kedua, pecahkan saja TV-nya!!! Biar Ramai!!! Terutama bila kita sudah terlalu muak dan terlalu hati-hati. Namun hati-hati saja bila kelak kita menjadi endapan lumut di sisi arus globalisasi karena mempraktikkan hal kedua ini. Ketiga, jadilah media.</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman">By: Fajar Fauzi Hakim, Anggota Depkominfo KM ITB</font></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/suaraitb.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/suaraitb.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suaraitb.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suaraitb.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suaraitb.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suaraitb.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suaraitb.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suaraitb.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suaraitb.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suaraitb.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suaraitb.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suaraitb.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suaraitb.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suaraitb.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suaraitb.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suaraitb.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraitb.wordpress.com&amp;blog=37386&amp;post=14&amp;subd=suaraitb&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraitb.wordpress.com/2006/03/22/industri-media/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/445c7add9966d3cf8a71e137388a7a42?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">suaraitb</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seminar National Character Building</title>
		<link>http://suaraitb.wordpress.com/2006/02/17/seminar-national-character-building/</link>
		<comments>http://suaraitb.wordpress.com/2006/02/17/seminar-national-character-building/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Feb 2006 08:17:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraitb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Liputan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraitb.wordpress.com/2006/02/17/seminar-national-character-building/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam Rangka Pemaknaan kembali nilai serta Karakter Kebangsaan, KM ITB mengadakan Seminar Nation Character Building yang diselenggarakan bertepatan dengan Pembukaan Pesta Rakyat 2006.Pembicara yang hadir Siswono Yudohusodo, Prof. Dr. I Gede Raka (Dosen Teknik Industri, Anggota MWA ITB), Dr. Fuad Abdal (Mantan direksi Bimantara, rektor ISTN, ketua DEMA71). Seminar yang dilaksanakan Kamis, 16 Februari 2006 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraitb.wordpress.com&amp;blog=37386&amp;post=13&amp;subd=suaraitb&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam Rangka Pemaknaan kembali nilai serta Karakter Kebangsaan, KM ITB mengadakan Seminar Nation Character Building yang diselenggarakan bertepatan dengan Pembukaan Pesta Rakyat 2006.Pembicara yang hadir Siswono Yudohusodo, Prof. Dr. I Gede Raka (Dosen Teknik Industri, Anggota MWA ITB), Dr. Fuad Abdal (Mantan direksi Bimantara, rektor ISTN, ketua DEMA71).</p>
<p>Seminar yang dilaksanakan Kamis, 16 Februari 2006 mulai Pukul 08.30-12.00 di Aula Timur ITB ini, membahas tentang bagaimana kondisi kemerosotan karakter bangsa kita di era sekarang. Padahal Indonesia adalah negeri kepulauan dengan lebih dari 200 juta penduduk, puluhan ribu pulau dan bahasa. Begitu pula limpahan barang tambang, energi, dan mineral yang menjadikan negeri ini begitu menggiurkan untuk diolah dan dikuasai. Tak ketinggalan potensi biodiversity kita yang terdiri dari minimal 325.350 jenis flora dan fauna. Semua hal di atas menimbulkan suatu pertanyaan besar, Mengapa bangsa ini tidak bisa menjadi bangsa yang besar?</p>
<p>Akhirnya paparan pembicara mengajak semuanya untuk berperan dalam kebangkitan bangsa ini. Jalankanlah peran sesuai posisinya masing-masing, begitu Siswono mangatakan. Menurut Gede Raka, bahwa Apa yang kita lakukan saat ini aakan menjadi butterfly effect di kemudian hari.Bangun karakter bangsa, karena Knowledge is power, but Character is more. Acara ditutup dengan iringan Orkestra ITB dan pembukaan pesta rakyat KM ITB 2006, 16-19 Februari 2006. Kominfo KM ITB (www.km.itb.ac.id)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/suaraitb.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/suaraitb.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suaraitb.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suaraitb.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suaraitb.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suaraitb.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suaraitb.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suaraitb.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suaraitb.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suaraitb.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suaraitb.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suaraitb.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suaraitb.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suaraitb.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suaraitb.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suaraitb.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraitb.wordpress.com&amp;blog=37386&amp;post=13&amp;subd=suaraitb&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraitb.wordpress.com/2006/02/17/seminar-national-character-building/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/445c7add9966d3cf8a71e137388a7a42?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">suaraitb</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dunia Menggila …</title>
		<link>http://suaraitb.wordpress.com/2006/02/05/dunia-menggila-%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://suaraitb.wordpress.com/2006/02/05/dunia-menggila-%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Feb 2006 02:49:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraitb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraitb.wordpress.com/2006/02/05/dunia-menggila-%e2%80%a6/</guid>
		<description><![CDATA[Aliran waktu yang menjurumus pada dimensi tanpa batas melalaikan manusia dari segala hal yang telah diatur oleh aturan Tuhan. Kesombongan dari sang manusia yang telah menjadi-manjadi menyebabkan kemurkaan Tuhan yang sangat membenci manusia-manusia sombong yang ada di muka bumi ini. Lalu apa konsekuensi dari kesombongan itu??? Sebuah kegilaan…, ya …, kegilaanlah yang telah menyeruak dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraitb.wordpress.com&amp;blog=37386&amp;post=11&amp;subd=suaraitb&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aliran waktu yang menjurumus pada dimensi tanpa batas melalaikan manusia dari segala hal yang telah diatur oleh aturan Tuhan. Kesombongan dari sang manusia yang telah menjadi-manjadi menyebabkan kemurkaan Tuhan yang sangat membenci manusia-manusia sombong yang ada di muka bumi ini. Lalu apa konsekuensi dari kesombongan itu??? Sebuah kegilaan…, ya …, kegilaanlah yang telah menyeruak dari alam tanpa dasar menuju permukaan. Kita lihat saja saat ini, betapa banyak bentuk dari kegilaan tersebut menjelma untuk sekedar mengelabui manusia-manusia yang tidak pernah memakai mata batinnya. Dan parahnya lagi, mereka yang melakukan kegilaan itu tidak sadar bahwa yang mereka lakukan adalah sebuah bentuk kegilaan.</p>
<p>Sebut saja …, RUU anti pornografi dan pornoaksi yang belakangan ini sedemikian marak muncul untuk diangkat menjadi topik yang panas untuk dibicarakan. Walaupun pro dan kontra itu adalah hal wajar dalam sebuah kasus, tidak sewajarnya bagi manusia yang beragama dan berbudaya berdalih bahwa pornografi dan pornoaksi itu boleh-boleh saja. Bahkan mereka yang kontra terhadap RUU tersebut notabene adalah public figure dan orang-orang yang berpendidikan. Patut dipertanyakan memang, sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran mereka??? Mereka berdalih bahwa pornografi dan pornoaksi itu adalah sebuah seni …, padahal jelas bahwa pornografi dan pornoaksi itu sangat bertentangan dengan seni. Seni adalah hasil cipta dan karsa manusia yang membuat penikmatnya menikmati dari segi akal dan hati. Sedangkan pornografi ataupun pornoaksi adalah alat setan yang digunakan untuk menguasai <em>nafs</em>/jiwa manusia menjadi sebuah <em>al hawa al nafs</em> yang berarti sebuah kesemuan jiwa.</p>
<p>Timbul lagi sebuah pertanyaan, Apakah uang dan popularitas telah menjadi komoditas utama sebuah kehidupan???</p>
<p>Ingatkah kita akan salah satu pesan Rasulullah saw untuk berhati-hati terhadap 3 hal : harta, tahta, wanita. Namun, tampaknya sekarang banyak sekali manusia yang telah mengabaikan pesan itu. Bahkan, ketiganya sudah menjadi tujuan dari kebanyakan. Wanita diekspos dalam sebuah kedok “seni” untuk mendapatkan harta …, dan harta digunakan untuk mendapatkan kekuasaan yang pada akhirnya ditujukan untuk mendapatkan harta yang lebih banyak lagi. Dunia ini sudah betul-betul gila …, dan kegilaan ini tampaknya terus berlanjut tiada henti.</p>
<p>Sebuah tantangan untuk kita semua yang berniat menghapuskan semua kegilaan di dunia ini…, apakah kita akan diam saja melihat kegilaan-kegilaan ini terjadi di depan mata kita??? Teringat sebuah lagu dari Extreme, More Than Words, seharusnya kita bercermin pada judul lagu itu …, lebih dari kata-kata, kita butuh tindakan yang real .., yang konkrit. Teringat dengan 3M-nya Aa’ Gym, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang terkecil, dan mulailah saat ini juga.</p>
<p><em>Oleh: </em><a href="mailto:black_fire_c12@yahoo.co.id">Black Fire</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/suaraitb.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/suaraitb.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suaraitb.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suaraitb.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suaraitb.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suaraitb.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suaraitb.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suaraitb.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suaraitb.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suaraitb.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suaraitb.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suaraitb.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suaraitb.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suaraitb.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suaraitb.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suaraitb.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraitb.wordpress.com&amp;blog=37386&amp;post=11&amp;subd=suaraitb&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraitb.wordpress.com/2006/02/05/dunia-menggila-%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/445c7add9966d3cf8a71e137388a7a42?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">suaraitb</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Laskar Pelangi, Sebuah Potret Realita</title>
		<link>http://suaraitb.wordpress.com/2006/02/05/laskar-pelangi-sebuah-potret-realita/</link>
		<comments>http://suaraitb.wordpress.com/2006/02/05/laskar-pelangi-sebuah-potret-realita/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Feb 2006 02:39:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraitb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraitb.wordpress.com/2006/01/27/laskar-pelangi-sebuah-potret-realita/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Trian Hendro A Di tengah ramainya jagad buku akhir-akhir ini dibanjiri cerita chicklit dan teenlit, sebuah langkah berani dilakukan oleh Bentang Pustaka. Tidak hanya karena menawarkan tema yang &#8220;sedikit&#8221; berbeda dari arus, tapi juga karena cerita ditulis oleh seorang pemula di kalangan novelis, cerpenis atau kalangan sastra Indonesia. Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, memberi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraitb.wordpress.com&amp;blog=37386&amp;post=10&amp;subd=suaraitb&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Trian Hendro A</strong></p>
<p>Di tengah ramainya jagad buku akhir-akhir ini dibanjiri cerita <em>chicklit</em> dan <em>teenlit</em>, sebuah langkah berani dilakukan oleh Bentang Pustaka. Tidak hanya karena menawarkan tema yang &#8220;sedikit&#8221; berbeda dari arus, tapi juga karena cerita ditulis oleh seorang pemula di kalangan novelis, cerpenis atau kalangan sastra Indonesia.</p>
<p>Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, memberi suasana baru di dunia sastra kita sekarang. Di Laskar Pelangi (LP), Andrea menceritakan kisah hidupnya sendiri bersama teman-temannya ketika masa-masa menikmati pendidikan dasar di daerah pelosok Pulau Belitong, daerah yang sebenarnya merupakan penghasil timah terbesar nasional. Sekawanan anak manusia itulah yang mereka namakan sendiri sebagai laskar pelangi, karena kesukaannya pada fenomena pelangi yang mereka nikmati di atas pohon <em>Filicium.</em></p>
<p>Ceritanya mengalir dimulai dari hari pertama penerimaan murid baru SD Muhammadiyah, sebuah sekolah swasta yang digambarkan dengan bangunan seperti kandang ayam yang terdiri dari seorang kepala sekolah dan seorang guru untuk 9 tingkat sekolah (SD dan SMP), akhirnya berhasil memenuhi target jumlah minimal 10 siswa sehingga sekolah tidak dibubarkan. Karena semata-mata sekolah itu gratis Dan hari-hari petualangan LP mulai menarik dinikmati, dengan karakteristik anak-anaknya yang unik.</p>
<p>Misalnya, seorang anak pesisir bernama Lintang, yang mewakili adegium bahwa kecerdasan bisa terlahir dimana saja, tidak melihat status sosial dan geografis. Kemudian Mahar, dengan kemampuannya berhasil mendalami dan mengaktualisasikan bahasa seni dari alam sekitarnya. Dan keduanya seperti perpaduan Yin-Yang, mampu menciptakan keseimbangan dinamis yang mengangkat posisi sekolahnya menjadi terpandang di Belitong.</p>
<p>Hal yang paling kuat disampaikan dalam novel ini, bahwa dibutuhkan keteguhan, ketekunan, keinginan dan kerja keras untuk mewujudkan cita-cita. Keterbatasan yang dimiliki, tetap akan menumbuhkan kebahagiaan bila dimaknai dengan keihlasan berkorban untuk sebanyak-banyaknya memberi, bukan menerima. Kita juga dihadapkan pada banyak perjuangan manusia dengan segala keterbatasannya, sangat menghargai pendidikan.</p>
<p>Banyak potret kehidupan yang ditampilkan novel ini. Kesahajaan seorang guru, Bu Mus, yang benar-benar layak di<em>gugu</em> dan ditiru. Atau kebijaksanaan sang Kepala Sekolah, Pak Harfan. Kesenjangan pendidikan di daerah-daerah pelosok negeri ini, ketidakadilan yang harus menenggelamkan potensi kecerdasan anak bangsa, dan kehidupan sosial masyarakat Pulau Belitong, sebuah gambaran paradoks pemerataan pembangunan.</p>
<p>Kisah percintaan gaya anak kecil, keberanian dan keingintahuan yang besar menjadi <em>feature</em> dalam cerita ini. Andrea sendiri sengaja mengeksplorasi pengetahuan hayati, sehingga kita disajikan dengan banyak kiasan menggunakan bahasa tumbuhan, yang di satu sisi memperkaya kosakata kita tapi disisi lain akan membuat pembaca bosan.</p>
<p>Dari jenisinya, LP bisa dimasukan dalam deretan novel realis, hampir sejalan misalnya dengan cerita fiksi yang disandarkan pada kisah nyata atau sejarah. Dan bagi penulis pemula, sebuah karya akan mudah lahir bila alur ceritanya memiliki ikatan emosional kuat dengan pengarang. Pun demikian dengan Andrea. Sehingga kelemahan seorang pengarang pemula yang terjebak pada ketidakjelasan alur dan muatan cerita, gaya bahasa, serta kemampuan deskriptif banyak tertutupi karena Andrea seolah-olah hanya memindahkan pengalamannya ke dalam LP.</p>
<p>Akhirnya, Laskar Pelangi layak dibaca siapa saja, tidak hanya penikmat sastra, tapi juga penggiat atau <em>stakeholder</em> pendidikan. Dan khasanah cerita kita, akan semakin bermakna dengan kehadiran Laskar pelangi ini. Selamat membaca&#8230;</p>
<div><a title="Cover Laskar Pelangi" href="http://suaraitb.files.wordpress.com/2006/02/LP.jpg"></p>
<div><img alt="Cover Laskar Pelangi" src="http://suaraitb.files.wordpress.com/2006/02/LP.thumbnail.jpg" /></div>
<p></a></div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/suaraitb.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/suaraitb.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suaraitb.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suaraitb.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suaraitb.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suaraitb.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suaraitb.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suaraitb.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suaraitb.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suaraitb.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suaraitb.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suaraitb.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suaraitb.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suaraitb.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suaraitb.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suaraitb.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraitb.wordpress.com&amp;blog=37386&amp;post=10&amp;subd=suaraitb&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraitb.wordpress.com/2006/02/05/laskar-pelangi-sebuah-potret-realita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/445c7add9966d3cf8a71e137388a7a42?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">suaraitb</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://suaraitb.files.wordpress.com/2006/02/LP.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Cover Laskar Pelangi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Studium Generale</title>
		<link>http://suaraitb.wordpress.com/2006/01/25/studium-generale/</link>
		<comments>http://suaraitb.wordpress.com/2006/01/25/studium-generale/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2006 04:52:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraitb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraitb.wordpress.com/2006/01/25/studium-generale/</guid>
		<description><![CDATA[Hadirilah kuliah umum sekaligus sosialisasi Komunitas Media Suara ITB, yang akan diadakan pada: Hari/Tanggal: Kamis, 26 Januari 2006 Jam: 08.30-13.00 WIB Tempat: Ruang 9231 (GKU Timur) Agenda: Studium Generale Jurnalistik oleh Bambang Harimurti (majalah Tempo) dengan tema: &#8220;Pers Mahasiswa: Posisinya di Masa Kini&#8221; Sosialisasi Komunitas Media ITB Demi pers mahasiswa yang lebih baik!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraitb.wordpress.com&amp;blog=37386&amp;post=9&amp;subd=suaraitb&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hadirilah kuliah umum sekaligus sosialisasi Komunitas Media Suara ITB, yang akan diadakan pada:</p>
<ul>
<li>Hari/Tanggal: Kamis, 26 Januari 2006</li>
<li>Jam: 08.30-13.00 WIB</li>
<li>Tempat: Ruang 9231 (GKU Timur)</li>
<li>Agenda:</li>
<ul>
<li>Studium Generale Jurnalistik oleh Bambang Harimurti (majalah Tempo) dengan tema: <strong>&#8220;Pers Mahasiswa: Posisinya di Masa Kini&#8221;</strong></li>
<li>Sosialisasi Komunitas Media ITB</li>
</ul>
</ul>
<p>Demi pers mahasiswa yang lebih baik!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/suaraitb.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/suaraitb.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suaraitb.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suaraitb.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suaraitb.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suaraitb.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suaraitb.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suaraitb.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suaraitb.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suaraitb.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suaraitb.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suaraitb.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suaraitb.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suaraitb.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suaraitb.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suaraitb.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraitb.wordpress.com&amp;blog=37386&amp;post=9&amp;subd=suaraitb&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraitb.wordpress.com/2006/01/25/studium-generale/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/445c7add9966d3cf8a71e137388a7a42?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">suaraitb</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pers Mahasiswa ITB: Masih Ada Kesempatan Berbenah</title>
		<link>http://suaraitb.wordpress.com/2006/01/19/pers-mahasiswa-itb-masih-ada-kesempatan-berbenah-2/</link>
		<comments>http://suaraitb.wordpress.com/2006/01/19/pers-mahasiswa-itb-masih-ada-kesempatan-berbenah-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2006 05:37:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraitb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraitb.wordpress.com/2006/01/19/pers-mahasiswa-itb-masih-ada-kesempatan-berbenah-2/</guid>
		<description><![CDATA[Saya membayangkan sebuah pers mahasiswa ITB yang mampu melahirkan karya-karya khas pers mahasiswa, sesuai dengan karakter mahasiswa sebagai sebuah konstruksi komunitas organis. Pers mahasiswa (persma) yang mampu sejajar dengan beban sejarah institut dalam menapaki jejak langkah perjuangan serta pembangunan bangsanya. Persma yang dirinya berada bukan dalam rangka mewujudkan pers itu sendiri, melainkan juga sebagai sebuah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraitb.wordpress.com&amp;blog=37386&amp;post=8&amp;subd=suaraitb&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya membayangkan sebuah pers mahasiswa ITB yang mampu melahirkan karya-karya khas pers mahasiswa, sesuai dengan karakter mahasiswa sebagai sebuah konstruksi komunitas organis. Pers mahasiswa (persma) yang mampu sejajar dengan beban sejarah institut dalam menapaki jejak langkah perjuangan serta pembangunan bangsanya. Persma yang dirinya berada bukan dalam rangka mewujudkan pers itu sendiri, melainkan juga sebagai sebuah tanggung jawab yang diemban oleh insan-insan institut sebagai sebentuk harapan bagi lingkungannya.</p>
<p>ITB, terlahir sebagai institut tertua di negeri ini, melahirkan banyak tokoh bangsa dan dicatat dalam tinta emas sejarah bangsa. Sudah puluhan tahun ditapaki, tidak menjadikan ITB lekang karena waktu. Malah institut ini semakin ditunggu kiprahnya di setiap pergulatan bangsa dalam mencari identitas. Dan memang terbukti dalam torehan, hampir setiap momen bangsa, sedkit atau banyak, ITB masuk dalam pusaran dinamika itu.</p>
<p>Sejarah dan peran panjang institusi ITB hendaknya lah mampu diwarisi semangatnya oleh persma ITB. Bagaimana sebuah persma ITB menjawab tuntutan, bukan hanya sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari jubah institusi, melainkan juga oleh dunia persma itu sendiri. Dalam segala daya upaya merangkai (kembali) semangat ke-persma-an itulah, sebuah tulisan sederhana ini dihaturkan.</p>
<p>Sebuah persma mahasiswa ITB, adalah pers mahasiswa yang mampu menyeimbangkan peran kekinian ITB dalam kerangka jurnalistik yang dimoderasi. Jika dalam era sebelum 1998 cirikhas pers mehasiswa adalah menjadi salah satu insan pers di negara ini yang berani <em>vis a vis</em> dengan pengusa (baca: rezim otoriter), sedangkan pers umum lainya cenderung berada di “jalur aman”, maka pasca reformasi seharusnya tidak menjadikan pers mahasiswa kehilangan pijakan jurnalistik dengan tetap mengusung <em>spirit</em> sama dalam aktivitasnya.</p>
<p>Di ITB, perjalanan persma dibidani khusus oleh unit kemahasiwaan Boulevard dan Pers Mahasiswa ITB (untuk berkutnya, nama unit akan disebut lengkap: Pers Mahasiswa atau disingkat PM, dan pers mahasiswa sebagai sebuah istilah, disingkat persma). Boulevard berdiri pada awal dekade 90-an, dimana saat itu sebuah persma disolidkan dengan jiwa perlawanan melalui tabloid dan buletinnya. Dan yang lebih muda, Pers Mahasiswa mulai dihadirkan di wajah institut tahun 2000an, dimana gagasanya untuk menelurkan majalah yang menjadi bentuk representatif wajah ITB di luar.</p>
<p>Jauh sebelumnya ternyata, Didik Supriyanto[1] mencatat, sebuah persma ITB pernah lahir dalam bentuk majalah mahasiswa yang terkenal saat itu, Kampus (KM). KM hadir di periode pemberlakuan NKK/BKK yang terkenal dengan represifitas gerakan mahasiswa. Ketika gerakan ditindak, <em>locus</em> persma yang menjawabnya kala itu. Seiring berjalannya waktu pula, KM tidak mampu bertahan karena “kegenitan” terhadap pemerintah yang dicirikannya sendiri.</p>
<p><strong>Realitas Kuasa dan Eksistensialis Persma<br />
</strong>Maka saat ini, Boulevard dan Pers Mahasiswa adalah realitas kuasa atas persma ITB. Dan realitas kuasa ini, menurut Habermas[2], seharusnya tidak hanya dilegitimasikan tetapi juga dirasionalisasikan. Bentuk legitimasi sudah dilakukan Boulevard dan Pers Mahasiswa yang dengan keterbatasanya menghasilkan karya jurnalistik, Boulevard dengan tabloid mahasiswa Boulevard dan buletin Selasar, sedangkan Pers Mahasiswa mengandalkan majalah Edutrend.</p>
<p>Apa yang menarik, bahwa Habermas menyoroti bahwa segala bentuk kekuasaan seharusnya tidak hanya dilegitimasikan, tetapi juga bisa dirasionalisasikan. Dalam kekuasaan, rasionalisasi diejakan dengan model komunikasi antara subyek dan obyek. Dan jika dalam ranah jurnalistik persma, rasionalisasinya bukan semata pada komunikasi, karena dalam legitimasinya, sebuah persma justru secara aktif melakukan komunikasi pembuktian.</p>
<p>Rasionalisasi yang dilakukan adalah rekonstruksi persma itu sendiri, dalam pengertian menuju sebuah persma yang sejati. Walaupun sejati sendiri itu tiada kemutlakan, namun kesejatian sebuah fenomena dalam praksis bisa dilihat dalam keberadaan komunitas persma saat ini berada. Artinya, sebuah kondisi atas persma-persma lain bisa menjadi alat bantu untuk rekonstruksi kesejatian.</p>
<p>Kenyataannya, bahwa persma ITB terlihat gagap berhadapan dengan persma lainya, walaupun kedua belah pihak serupa dalam bereproduksi, antara buletin dan majalah atau jurnal. Setelah menelisik lebih jauh, sebuah pertanyaan, harapan yang bercampur pesimistis menghujam dalam menukik dakian ke-aku-an, masih bisakah persma ITB menanggalkan dirinya untuk kemudian sengaja melakukan rekonstruksi?</p>
<p>Sayangnya, eksistensi ke-aku-an tadi masih banyak di sela-sela duduk kita. “Mereka kan punya jurusan sosial, kita?”, sebuah apologi saya pikir, daripada sebuah refleksi atas kesadaran diri sendiri. Bukankah kita, ITB, memang seperti ini? lantas ada apa dengan Suara Mahasiswa? Justru, sekarang lah saat tepat untuk berpikir keras dan dalam atas eksistensi kita sendiri, kenapa kita masih berani menyebut diri sebagai bagian dari persma. Kalau memang tidak mau, sekali tadi mau bukan masalah mampu, maka buram sudah jarak pandang ke depan persma ITB.<span id="more-8"></span></p>
<p><strong>Tanggung Jawab Persma<br />
</strong>Lalu timbul sebuah pertanyaan, sebuah persma yang seperti apa yang menjadi acuan untuk berproses dalam konteks persma ITB sekarang?</p>
<p>Terdapat sebuah adegium yang menjadi pegangan, bahwa sebuah persma tidak bisa dilepaskan dari konteks ia berada dan karenanya pula ia memiliki tanggung jawab di luar sebagai konteks tersebut”[3]. Artinya, sebuah persma memiliki dua tanggung jawab yang harus diembannya. Pertama, sebagai bagian dari konteks ia berada, menjalankan fungsi-fungsi jurnalistik didalamnya yang tidak akan pernah menjadi jangkauan pers umum. Kedua, atas nama konteks pula, persma harus melakukan pencerdasan dan pencerahan dalam kerangka jurnalistik ke lingkunagannya, atau dalam bahasa korporat, ke elemen <em>stakeholder-</em>nya.</p>
<p>Ya&#8230;sebuah persma ITB, tidak bisa dilepaskan dari konteks persma itu berada, yaitu institusi ITB. Sebuah persma bertindak sebagai mediasi dalam kehidupan intelektual kampusnya. Sebuah persma yang tidak mendaratkan dirinya di kampus, dengan sadar telah mencerabut identitas kepemilikan publik kampus atas dirinya. Artinya sebagai sebuah komunitas jurnalistik di kampus, persma, akan kehilangan eksistensi di dalam aktivitas sistem tubuhnya. Persma yang tercerabut.</p>
<p>Wilayah berikutnya adalah lingkungan, sebuah tanggung jawab sosial yang lebih besar. Sudah tanggung jawabnya, bila sebuah PT memikul beban moral-sosiologis atas kondisi riil di masyarakat. Kelaparan, endemi, kekerasan, kebodohan atau bentuk fenomena paradoks pembangunan bangsa ini, tidak bisa lepas dari peran apa yang seharusnya bisa dilakukan institusi pendidikan tinggi. Pun demikian persma.</p>
<p>Jika pers umum mengagung-agungkan obyektifitas, <em>cover both side</em>, maka justru persma mengandalkan subyektifitas dan kritisisme. Subyektifitas dalam pandangan mahasiswa melihat kondisi, dan kritisisme untuk menggugah kesadaran lingkungan, termasuk pemerintah. Dalam hal ini, persma menjadi wakil mahasiswa terhadap kondisi tertentu. Jika ujungnya persma ITB tidak mau, ucapkan selamat tinggal untuk masa depan mahasiswa yang berkesadaran sosial.</p>
<p>Dua ranah yang harus dilaksanakan persma diatas ternyata bukanlah sebuah tanggung jawab yang tanpa sebab. Tridharma Perguruan Tinggi mengatakan hal serupa, dan <em>klop</em> pula dengan buah pikiran Hatta, bahwa peran perguruan tinggi (sebagai konteks dalam hal ini) harus mencetak manusia-manusia yang memiliki keinsafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat, tidak hanya yang memajukan ilmu pengetahuan. Berat? Tidak juga. Karena tanggung jawab itulah adanya.</p>
<p><strong>Kesempatan Itu<br />
</strong><em>“Di tengah klaim kebenaran universal, para ilmuwan merindukan hadirnya lokalitas. Namun, sejauh apakah identitas lokal itu?”</em></p>
<p>Kalimat diatas yang saya baca di cover belakang dari sebuah kumpulan tulisan (mereka tidak meu menyebutnya jurnal atau majalah, hanya teman <em>seruputan</em> kopi dan lesehan) yang diberi label “Sintesa”, dari teman persma di jogja. Lantas apa hubungannya?</p>
<p>Segala pemikiran dan pendapat sebelumnya menimbulkan kesan, persma ITB sangat ketinggalan dibandingkan teman-teman lainnya. Saya mungkin dianggap terlalu idealis (toh memang begitu mahasiswa), tidak melihat realita, mengawang-awang dan ujung-ujungnya, tidak kongkrit! Kuliah, tugas, praktikum dan lagi-lagi apologi bahwa kita tidak berbasiskan sosial. Seolah-olah tidak harapan bagi persma ITB, <em>hopeless.</em> Seadanya seperti sekarang saja, yang penting masih bisa hidup, terbit berkala (kala ada, kala tidak). Itu mungkin pikiran sebagian besar orang.</p>
<p>Saya jadi teringat kisah kodok dan air panas. Jika kita memasak air panas dalam panci, kemudian memasukan seekor kodok. Maka kodok akan meloncat dengan cepat, keluar dari air panas itu. Tapi anehnya, ketika kita memasukkan kodok lebih dulu dalam air, sebelum pancinya diregang api, apa yang terjadi? Setelah api dinyalakan, pelan-pelan air mulai hangat dan kodok merasa nyaman disana, karena ia tetap tidak bergerak apalagi meloncat. Lama-kelamaan air semakin panas, dan kodok tetap merasa baik-baik saja. Lalu air semakin panas dan panas, sesaat sebelum sadar bahwa dirinya dalam bahaya, kodok berusaha meloncat. Tapi apa lacur, air sudah sangat panas dan si kodok pun tamat.</p>
<p>Kisah kodok tersebut, mudah-mudahan menjadi katalis untuk memahami mengapa dan kemana kita akan berubah. Ya..berubah, berbenah, perbaikan atau apalah itu. Intinya keadaan sekarang yang makin lama memang makin berat (seperti air yang makin panas), mewajibkan kita untuk berbenah. Masih ada kesempatan? Tentu masih banyak yang bisa dilakukan.</p>
<p>Indigenisasi, kata yang mewakili keinginan indentitas lokal. Indigenisasi, berasal dari akar indie yang artinya pribumi. Secara bebas diartikan pribumisasi akan suatu hal. Pribumisasi yang dimaksud dalam bahasan persma ITB adalah kontekstualisasi nilai-nilai idealis persma (padahal yang idealis senantiasa dinamis, tapi dalam hal ini melihat persma lain yang lebih hidup) ke dalam kultur ITB, diadaptasikan sehingga bisa melahirkan <em>genre</em> baru persma, “sedikit” beda dari yang ada sekarang.</p>
<p>ITB memang tidak punya sosial, itu realita yang tidak perlu ditangisi. Tapi ITB punya potensi Ipteks (ilmu pengetahuan, teknologi dan seni), yang bisa menjadi sumber dinamisasi, tidak lagi sekedar potensi. Salah satu ide yang muncul, seorang kawan pernah berujar, “Jika persma di kampus yang lebih sosial terlihat mengangkat ilmu sosial dalam taraf ilmiah dan partisipatif, maka persma ITB harus bisa menurunkan kekakuan iptek yang sudah pasti ilmiah-partisipatif dalam praksis-komunikatif.” Dengan tetap membawa kerangka jurnalistik, persma ITB bahkan bisa lebih baik dan lebih menyentuh pokok masalah, justru karena kita tidak punya sosial tapi tetap punya jurnalistik seperti persma lainnya. Sebuah gagasan yang bagus.</p>
<p>Ada gagasan yang lebih sederhana lagi, hasil diskusi dengan seorang kawan. “Kita buat saja semacam jurnal ilmiah hasil penelitian mahasiswa, yang dikomunikasikan dengan gaya jurnalistik ilmiah populer “, ujarnya berapi-api. Yang terbayang, jurnal itu dikeluarkan berkala (benar-benar periodikal!), atau sesuai iklim penelitian mahasiswa, disebar ke kampus lain, LSM, alumni (yang banyak haus akan ilmu normatif kampus) dan lain-lain. Toh selama ini, belum banyak (atau tidak ada) jurnal penelitian yang menelurkan penelitian-penelitian mahasiswa. Sebuah gagasan lahir lagi. Mudah-mudahan memicu diskusi lebih hangat.</p>
<p>Jika dua gagasan contoh diatas lebih bersifat ke luar, hal ini karena selama ini ITB sebagai sebuah sekumpulan putra-putra bangsa belum diakui di dunia persma Indonesia. Terbitan, publikasi, acara kumpul-kumpul tidak ada yang menyertakan elemen persma ITB. Artinya, kita belum diakui karena tanggung jawab keluar yang tersendat. Bukannya ada Edutrend, majalah pendidikan dwibulanan, <em>gacoannya</em> Unit Pers Mahasiswa ITB? Seingat saya, mereka baru terbit empat kali, terlepas banyak hal yang bisa diperbaiki sebagai representasi ITB di luar.</p>
<p>Sedangkan yang di dalam kampus, Boulevard sudah cukup mapan mengambil peran itu. Buletin Selasar yang (rencana) dwimingguan dan Tabloid Boulevard dengan pembahasan isu-isu kampus lebih dalam. Keduanya, ternyata masih sulit bagi massa kampus dijadwalkan waktu terbitnya. Pers Mahasiswa sendiri, buletin Eureka yang disegmentasikan kampus, jauh lebih berkala, tak tentu.<!--more--></p>
<p><strong>(Re)konstruksi Persma ITB</strong></p>
<p>Telah dijelaskan panjang lebar diatas, eksistensi sebuah persma, paradigma tanggung jawab yang harus ditumbuhkan dalam persma, realitas persma ITB dan kesempatan yang bisa dilakukan. Sekarang, bagaimana kita mewujudkannya? Haruskah persma ITB punya dua tanggung jawab? Dan di lapangan, ITB punya Unit Boulevard dan Pers Mahasiswa (PM). Mari kita mulai membangun.</p>
<p>Saya anggap kita tidak perlu mempertanyakan lagi, masih haruskah sebuah persma punya dua sayap tanggung jawab, sekalipun di ITB. Karena sudah panjang “rasionalisasi” yang dikemukakan diatas. Nah..dengan adanya Boulevard dan Pers Mahasiswa, haruskah masing-masing punya dua sayap, yang akhirnya ITB akan punya empat produk persma. Boros dan tidak efisien. Justru karena kondisi akademik yang makin mendesak.</p>
<p>Diskusi..diskusi dan diskusi. Akhirnya muncul juga gagasan yang bisa menjadi salah satu alternatif terapan persma di kampus kita. Secara umum, tiap unit pers punya ciri khas dan potensi masing-masing. Boulevard punya ciri kental dengan <em>investigatif news</em> dan ada pengalaman dalam bermain opini kampus, namun agak angin-anginan untuk “sekedar” menyapa pembaca dan masih belum ada keberanian <em>go public</em>. Sedangkan PM relatif nekat mengambil jatah kue pasar majalah umum dengan upaya terus menerus untuk memperkuat <em>brand</em>, caranya? Terbit sekontinu mungkin, meski minim investigasi. Tak ubah ensiklopedi, tutur salah satu awak Sintesa. Singkatnya, Boulevard sangat <em>ngampus</em>, dan PM memilih umum.</p>
<p>Masing-masing punya kelebihan, itu sudah pasti. Dan kelebihan di segmen yang diambil (kampus dan umum) bisa menjadi jalan terang menuju persma ITB yang “utuh”, hadir dengan dua sayap untuk mewakili satu ITB. Skenario pertama, terdapat kesepakatan diantara keduanya untuk saling mendukung dalam SDm, pemberitaan, pengelolaan penerbitan dsb. Tidak ada yang dibubarkan, hanya butuh semacam “payung hukum”. Dan konsekuensinya, produk yang semula menjadi milik salah satu pihak menjadi milik keduanya. Sinergis? Ah, saya tak mau terjebak kesulitan untuk mengartikannya secara ilmiah.</p>
<p>Skenario kedua, lebih ekstrem. Membubarkan keduanya untuk kemudian membentuk unit baru gabungan, dengan label produk yang sama, ada Boulevard dan Edutrend. Ekstrem memang, tapi akan berdampak jangka panjang yang besar. ITB benar-benar hanya akan mempunyai satu unit pers kampus dan akan lebih jelas wajah ITB dalam dunia persma Indonesia. Nama unit bisa dibincangkan, hanya sekedar papan nama koq! Dan jujur, ini memang ide <em>edan, </em>tapi menarik untuk dikaji. Mengkhayal? Tidak juga, hanya dibutuhkan kesadaran bersama dan keberanian untuk tidak terikat dengan patron yang menghambat kemajuan.</p>
<p>Dua contoh skenario diatas pasti akan menimbulkan pro kontra, di masing-masing pihak unit persma tersebut. Apalagi bila mungkin berhadapan dengan <em>sesepuhnya, </em> yang merasa paling berjasa karena dengan keringat, air mata dan darah telah berjuang untuk meng-eksiskan unitnya masing-masing, lha sekarang ada orang yang tidak pernah aktif satupun di unit persma ITB <em>ngomong</em> macam-macam untuk mewujudkan persma yang utuh, persma yang sejati. Bah, apa pula itu.</p>
<p>Jika memang pikiran-pikiran possesive-deffensif yang akhirnya mengemuka dalam diskusi ini, maka kita memang harus mengelus dada. Bahkan untuk sekedar <em>urun rembug</em> atas kemajuan ke-persma-an ITB, begitu takutnya seperti takut pada ejekan atas hasil liputan. Saya tak perlu berteriak-teriak, “kebebasan berpendapat saya dipasung”, “telah terjadi pelanggaran HAM” atau akhirnya dicibir, dicampakan tak jadi soal. Saya malah berduka, insan pers yang seharusnya terbuka dan dinamis terhadap perubahan tidak tercermin dalam budaya persma ITB. Tragis. Dan bayangan saya di awal tulisan ini, hanya bunga mimpi siang hari. Tak lebih.</p>
<p align="center">***</p>
<p><em>“Zaman tak dapat dilawan, kepercayaan harus diperjuangkan”. </em>Slogan sederhana, namun mampu mewakili keberadaan pers mahasiswa (persma) sekarang, termasuk di ITB. Zaman memang sudah berlalu, dan persma harus segera berbenah untuk tetap meng-ada. Semua catatan perjuangan masa lalu, kalaupun itu ada, harus senantiasa teus dan terus menerus diperjuangakan. Jangan alergi melihat sesuatu yang melawan arus, yang kita ributkan seharusnya mau kemana kita di masa mendatang. Kalau bukan kita, kesempatan bersejarah bagi kita pun lewat. Dan si kodok pun <em>wassalam&#8230;</em></p>
<p align="right"><strong>Trian Hendro A<br />
</strong><strong>Pemerhati Pers Mahasiswa<br />
</strong><strong><a href="mailto:trian_ha@yahoo.com">trian_ha@yahoo.com</a> (Mail, YM &amp; FS)<br />
</strong></p>
<div>
<hr /></div>
<p>[1] Didik Supriyanto, dalam <em>Perlawanan Pers Mahasiswa</em> (1998)<br />
[2] Jurgen Habermas, Sosiolog Jerman Kontemporer, dalam <em>Menuju Masyarakat Komunikatif</em> (F.B Hardiman, 1993)<br />
[3] Adegium yang dipegang erat-erat oleh persma di Jogjakarta (Balairung UGM, Ekspresi UNY, Himmah UII), sebagai contoh.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/suaraitb.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/suaraitb.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suaraitb.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suaraitb.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suaraitb.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suaraitb.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suaraitb.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suaraitb.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suaraitb.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suaraitb.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suaraitb.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suaraitb.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suaraitb.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suaraitb.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suaraitb.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suaraitb.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraitb.wordpress.com&amp;blog=37386&amp;post=8&amp;subd=suaraitb&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraitb.wordpress.com/2006/01/19/pers-mahasiswa-itb-masih-ada-kesempatan-berbenah-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/445c7add9966d3cf8a71e137388a7a42?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">suaraitb</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
