Komunitas Media Suara ITB

March 28, 2006

Sebuah Blog untuk Seribu Ungkapan:

Filed under: Umum — editor @ 9:12 pm

Bagian 1

Pada mulanya. . .

Menulis catatan yang disebut “blog” adalah hal yang lazim dikerjakan oleh para pekerja Teknologi Informasi terhadap sistem yang mereka urus. Sama jamaknya dengan budaya menulis buku harian, catatan perjalanan, editorial media, sampai dengan notulensi pertemuan organisasi. Semua tulisan yang disebut tadi dibuat berdasarkan kerangka waktu dalam melihat peristiwa.

Tidak ada yang baru sampai dengan ditemukan cara agar catatan-catatan tersebu lebih mudah dipublikasikan, lebih mudah dibaca orang lain, dan penulisnya memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan pembaca dengan lebih mudah.

Blog adalah pemenggalan dari kata weblog dan menurut tulisan Enda Nasution, istilah tersebut pertama kali digunakan oleh Jorn Barger pada 1997 [NAS]. Kendati cikal-bakal situs Web yang bercorak blog sudah muncul sebelum disebut secara spesifik oleh Barger, kondisi tekologi Web saat itu masih merupakan kendala besar. Memiliki sebuah situs Web masih merupakan kesulitan tersendiri. Hingga akhirnya pada 1999 Blogger, saat itu sebuah perusahaan rintisan,menyediakan layanan gratis dan berbayar untuk penyusunan blog. Penetrasi Blogger ini menjadi penyebab awal ledakan jumlah blog. Berbeda dengan layanan tempat hosting gratis yang sudah ada, penyedia blog tidak berbicara apa-apa tentang nama berkas atau sintaks HTML untuk menyusun sebuahWeb pribadi, melainkan menyodorkan tanggal sebagai titik-acuan. Pemakainya dapat berpikir praktis: saya hendak menuliskan catatan pada tanggal sekian.

Dilihat dari sisi rentang waktu hingga aktivitas blog meledak pada tahun 2004[DIR], “sosialisasi” blog perlu waktu sekitar lima tahun hingga diterima oleh kalangan yang sangat luas. Pada rentang waktu tersebut, blog sudah menjelma menjadi banyak kemungkinan: koleksi taut Internet – lebih variatif dibanding yang disodorkan Tim Berners-Lee, koleksi artikel – ratusan ribu orang menuliskan sikap dan memberi masukan, koleksi foto (photoblog) – pemberi semangat baru pada album foto yang sebelumnya statik, forum diskusi komunitas atau publik – menjelma menjadi ribuan Speakers’ Corner ala Hyde Park, London.

Kondisi kita di Indonesia saat ini: riuh-rendah blog sudah berimbas, penulisblog berjumlah lebih dari sepuluh ribu orang [DIRa], pemakai Internet sekitar dua belas juta orang, kebebasan menulis blog boleh dikatakan sejauh ini tidakada persoalan berarti, dan ongkos koneksi Internet masih mahal.

1.1 Saya menulis [di blog], maka itulah saya

Di sebuah tempat di Belanda, ada tulisan yang agaknya terinspirasi oleh ungkapan sohor Rene Descartes6, ik schrijf, dus ben ik. Motivasi terbesar bagi pemilik blog adalah mencatatkan aktivitas atau gagasannya, bukan memiliki blog. Dengan demikian, pertanyaan, “Apakah Anda sudah memiliki blog?”sebaiknya diganti menjadi “Apakah Anda sudah mencatatkan sesuatu di blog?”

Memiliki blog adalah pekerjaan yang sangat mudah saat ini. Setiap orang yang berbekal akses Internet dapat mengumpulkan sebanyak mungkin akun blog (representasi kepemilikan blog) yang menurutnya menarik. Namun yang lebih penting adalah kesediaannya untuk menulis. Kecintaan akan melakukan pencatatan,ketekunan untuk mengolah ide, atau kerajinan mengumpulkan hasi kerja (foto, puisi, kodE sumber

pemrograman, analisis di lab) inilah yang menggerakkan aktivitas blog.

Pada sebuah diskusi di milis (mailing list) di sekitar tahun 1998, salah seorang teman mengomentari saya bahwa email yang saya kirim selalu menggunakan“bahasa yang indah”. Milis yang kami ikuti “hanya” sebuah milis paguyuban dan pertama kali saya membaca komentar itu sambil menimbang-nimbang: apa yang dia maksudkan dengan “indah” di situ? Ternyata si penulis komentar mencermati kebiasaan saya yang berusaha menulis email dengan bahasa Indonesia baku. Baik sedang mengikuti diskusi serius atau sedang bercanda dimilis, saya berusaha tetap berbahasa Indonesia baku – hanya pemilihan ungkapan yang saya ganti dari serius menjadi santai, atau sebaliknya.

Dalam sebuah diskusi yang lain saya memperoleh testimoni yang sedikit mengagetkan:

ada satu atau dua anggota milis yang menyimpan tulisan saya atau sesekali mencetaknya di atas kertas (hard copy). Saya melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang melecut: segala sesuatu jika dikerjakan sungguh-sungguh dan dengan kecintaan kemungkinan besar dapat bermanfaat bagi orang lain. Artinya, saya perlu sebuah tempat penyimpanan artikel (repository) yang lebih terorganisir rapi – lebih dari sebuah milis yang repot pengelolaannya.

Apabila sebelumnya saya sempat menjadi pengajar materi Web dan pemrogramannya, baru pada tahun 2002 saya mulai menekuni pekerjaan mengelola situs Web dengan serius. Selain untuk keperluan organisasi yang saya ikuti, koleksi beberapa tulisan pribadi mulai saya publikasikan. Rencana yang saya susun sederhana: jika diperlukan sebagai kutipan untuk diskusi di milis misalnya, saya cukup menyebut URI kutipan. Dengan latar belakang pemrograman yang saya miliki, pemuatan sebuah artikel ke situs Web dapat dilakukan secara otomatis. Oh ya, saya mulai mengumpulkan tulisan!

Saat itu saya telah mendengar istilah blog terutama Blogger.com yang mulai

disebut-sebut di beberapa situs. Namun demikian, saya belum tertarik dengan“gaya” blogging yang didengung-dengungkan. Sampai akhirnya pada pertengahan tahun 2004, Hatami Nugraha, salah satu teman yang dikenalkan lewat Yahoo! Messenger, menunjukkan perangkat lunak Movable Type. Setelah saya coba menyusun templat, memindahkan artikel yang sudah ditulis, saya mulai menyadari beberapa konsep yang tersedia secara praktis di Movable Type.

Ditambah beberapa kunjungan ke situs-situs yang membicarakan standar Web,

saya merasa sudut pandang yang disodorkan alat bantu blog cocok dengan konsep Web yang saya anut. Alhasil, saya mulai menulis lewat blog karena: praktis dan konsep yang digunakan cocok dengan anggapan saya.

1.2 “Gue banget” hingga “bersama kita bisa”

Salah seorang teman yang sudah menerjemahkan belasan buku dan aktif di dunia perbukuan mengemukakan kejengahannya membaca beberapa blog yang pernah dikunjungi. “Waktu masih remaja, kami selalu dinasehati agar buku harian disimpan baik-baik di dalam lemari. Tidak diumbar seperti cerita-cerita di dalam blog,” demikian keberatan dia. “Kalau demikian, kira-kira apa motivasi penulisnya?,” saya balik bertanya. Dia menjawab dengan gaya anak muda, “Aktualisasi diri, coy!” Saya mendapatkan ungkapan akan kondisi tersebut yang justru tumbuh dan berkembang dalam budaya blog dan kelengkapan yang menyertainya: gue banget! Jika diamati secara sekilas, blog yang berisi catatan aktivitas harian penulisnya memang masih menempati porsi lebih besar. Sebagian malah terlihat membawa pandangan dirinya secara emosional (dari sisi perasaan) dalam takaran berlebih. Selain hal ini merupakan konsekuensi dari Internet yang bersifat terbuka dan global – yang secara otomatis diterjemahkan menjadi, “Saya bisa berbicara kepada dunia!” – blog sendiri sebagai perpanjangan catatan harian memang membawa diri penulisnya dengan sangat personal. Ditambah pernakpernik alat bantu blog dan kelengkapannya, tag HTML dan CSS12, dan alat-alat bantu multimedia, menjadi sebuah tuntutan untuk menyajikan blog yang menjadi representasi pengelolanya. Sebuah blog yang gue banget! dari sisi pemiliknya.

Sisi sebaliknya dari kondisi di atas adalah kemungkinan sangat potensial untuk mengembangkan sebuah deposit pengetahuan dan budaya publik lewat untai manik-manik publikasi personal berupa blog. Deposit publik yang dimaksud adalah tingkat kepemilikan khalayak akan pengetahuan dan budaya. Kira-kira dapat digambarkan seperti ini: teori relativitas Einstein konon sulit dijelaskan dan diterima publik – termasuk akademisi – pada tahun 1940-an, namun sekarang ini sudah menjadi sesuatu yang akrab bahkan bagi siswa sekolah lanjutan.

Internet datang di Indonesia tidak melewati proses yang panjang seperti halnya di negara asalnya. Masyarakat kita menerima Internet sudah pada saat era dot-com berlangsung. Semangat awal untuk berbagi seperti pada saat Internet masih berkutat di universitas dan lembaga penelitian di Amerika Serikat acapkali terlewat. Alih-alih menunggu inisiatif dari pihak-pihak besar memulai penyediaan materi yang diperlukan di Internet, momen ini bisa “dicuri” oleh publik sebab publikasi materi lewat Web secara swadaya bukan sesuatu yang muskil.

Yah, seperti jargon sebuah partai, “Bersama Kita Bisa”.

(more…)

Advertisements

March 23, 2006

ADISI: “Quo Vadis Kebebasan Pers”

Filed under: Uncategorized — suaraitb @ 6:48 pm

Jum’at, 3 Maret 2005 HATI (Harmoni Amal Titian Ilmu) ITB mengadakan ADISI (Ajang Dialog Seputar Islam) dengan tema “Quo Vadis Kebebasan Pers”. Diskusi dengan nara sumber Trian H.A (Menkominfo Kabinet KM ITB), Jofardhana (PU Boloulevard), Amandra (PU Persma), Ageng (HATI) menggunakan studi kasus kartun Nabi Muhammad yang dimuat pada Jyllands-Posten Denmark tangal 30 September 2005 dan maraknya media-media pornografi, termasuk isu Playboy Indonesia.

Andra memulai diskusi dengan memeparkan awal mula kadimuatnya kartun tersebut. Kartun Nabi yang berjumlah 12 dimuat karena redaktir budaya Jyllands-Posten ingin membantu sebuah permintaan penggambaran Muhammmad untuk anak-anak. Redaktir itu sendiri sebenarnya tahu bahwa kartun tersebut adalah hal yang sensitif, dan dilarang dalam Islam. Tapi karena dalihnya membantu, maka dia meminta kepada anyak karikaturis untuk menggambarkannya. Dan akhirnya, muncullah 12 kartun tersebut.

Ketika kartun tersebut dimuat Jyllands-Posten, umat muslim Denmark lansgung melancarkan proytes. Tapi dengan alasan kebebasan pers, protes tersebut tidak diindahkan bahkan juga oleh pemerintah Denmark. Kemudian isu semakin bergulir, dan mulai januari 2006 banyak media dunia (kalau di indnesia, Republika) yang menuliskan laporan kartun tersebut. Akhirnya, banyak pula umat muslim seluruh dunia yang memprotes dengan melakukan demo, perbuatan merusak kantor kedubes Denmark atau pemboikotan produk Denmark.

Jadi, apakah kebebasan pers? Menurut Jofa, kebebasa pers adalah hak bebas, tidak terikat yang dimiliki oleh pers dalam melakukan tugas jurnalistik. Andra menambahkan, bahwa dengan adanya hak maka disertai dengan adanya kewajiban pula. Kewajiban untuk manjaga perasaan pihak-pihak yang kemungkinan besar menimbulkan kebencian, terutama dalam isu-isu yang touchy.

Trian kemudian memaparkan panjang lebar tentang asal muasal kebebasan pers. Dengan berkaca pada sejarah pers Amerika Serikat, di era Aufklarung abad 17 banyak bermunculan teori-teori yang menjunjung humanisme. Kebebasan adalah hak dasar (tidak bisa digangu gugat) yang dipunyai setiap manusia sejak lahir, pun demikian dengan pers juga punya kebebasan mutlak. Kebenaran diyakini berserakan di masyarakat yang harus selalu dicari dengan pemikiran-pemikiran sehingga kebenaran bisa didapatkan. Dan pers berfungsi untuk senantiasa merekonsruksi kebenaran tersebut. Walupun tetap menggunakan batas, yaitu tidak ada maaf bagi pers yang melakukan pemalsuan. Teori tersebut dikenal dengan teori libertarian.

Adanya aksi menimbulkan reaksi. Timbulah teori tanggung jawab sosial sebagai reaksi teori libertarian.

Teori tanggung jawab sosial menggunakan “fakta” teori evolusi darwin, relativitas einsten dan behavioralisme freud. Evolusi mengtakan bahwa manusia selalu berubah, sehingga kebenaran itu sendiri juga berubah. Dengan relativitas, kita melihat segala sesuatu sebagai relatif-tidak ada yang mutlak. Sedangkan behavioralime mengatakan baha manusia dlam bertindak banyak yang tidak menggunakan rasio (rationalismless), sehingga pencarian kebenaran menggunakan pikiran tidak tepat. Disamping itu, kekuatan demokrasi, revolusi ekonomi dan teknologi sangat mempengaruhi pers yang tidak bisa menjadikan pers benar-benar murni, tidak dipengaruhi apapun.

Kemudian, munculah definisi baru tentang kebebasan pers, yaitu dengan dua poin bahwa adanya hak pubil untu tahu dan adanya tanggung jawab pers. Dengan dua hal tersebut, konsepsi kebebasan yang semula berada di individu berpindah ke masyarakat. Pers juga berperan dalam mengaitkan nilai masyarakat. Dalam kata lain, pers harus arif menggunakan hak kebebasannya.

Mengenai studi kasus, kartun Nabi menggambarkan bahwa pers tidak arif menggunakan kebebasan pers. Yang hadir pun bersepakat, bahwa kartun itu tidak tepat bila diletakan dalam kerangka kebebasan pers kaena menyentuh hal yang esensial, agama. Majalah Playboy dan majalah-majalah mesum lainnya, menurut pemicara bukanlah pers. Pers lebih banyak porsi informasi, menyampaikan pada masyarakat, bukan gsoip, infotainment atau pornografi. Apalagi dalam budaya dan agama, majalah-majalah tersebut sangat tidak sesuai.

Ageng mengajak peserta diskusi pada perang pemikiran barat terhadap islam. Kenapa dalam kartun tersebut, Nabi digambarkan sebagai sosok pembawa bom-teroris. Menurutnya, kartu tersebut bisa merupakan pancingan kepad umat Islam. Pers di barat, adalah alat propaganda. Dibuktkan dalam isu invasi AS di irak. Pers di AS memprogandakan kepada masyarakatnya bahwa Iraq adalah negeri yang berbahaya, sehingga rakyat AS tidak menolak invasi AS ke Iraq. Sehingga, kebebasan pers sendiri di AS tidak agung (buktinya AS adalah negara terbesar ke-5 di dunia yang memenjarakan wartawan, no 1 adalah Cina). Di sisi lain, kebebasan terkungkung oleh kebebasanya itu, yaitu dengan mendengung-engungkan kebebasan, bukan kebenarannya.

Diskusi diakhiri dengan kesepakatan bahwa kebebasan pers perlu dan dibutuhkan. Namun, dibutuhkan tanggung jawab dan kearifan dalam menggunakan kebebasan tersebut. Karena fenomena pers saat ini tidak lepas dari misi yang dibawa oleh media pers tersebut. Hegemoni informasi dan perang pemikiran harus dilawan oleh umat islam dengan kekuatan yang sama. Munculnya kemarahan adalah hal yang wajar, tapi yang lebih dipikirkan sekarang adalah bagaimana umat islam bisa menandingi bahkan melebihi hegemoni tersebut.

Oleh: Trian H.A (Menkominfo Kabinet KM ITB)

Bedah Buku: “Confession of An Economic Hitman” dan “Imperial Ambition

Filed under: Uncategorized — suaraitb @ 6:39 pm

Dua buku Internasional yang kontroversial berpadu dalam sebuah forum ilmiah bedah buku “Confession of An Economic Hitman” (CoAEH) yang ditulis John Perkins dan “Imperial Ambition” (IA) yang ditulis Noam Choamsky. Membedah kedua buku tersebut berarti membedah kebencian kepada negara Amerika Serkat, sebuah negara adidaya makmur berumur ratusan tahun yang dibangun di atas mayat ratusan Indian dan budak Afrika. Menurut kedua buku tersebut, Amerika terus membangun negerinya agar lebih makmur, tentu saja dengan mencari calon mayat baru. Di negeri lain tentunya.

Acara bedah buku dilangsungkan pada hari Jum’at tanggal 17 Februari 2006 di Aula Barat ITB. Acara yang dijadwalkan dibuka pada pukul 13.00 ini mulai dibuka 20 menit lebih telat dari jadwal. Acara ini diselenggarakan oleh Departemen Sosial Politik KM ITB. Untuk menyemarakkan acara ini, diundanglah nama – nama besar sebagai pembicara. Mereka adalah KH Abdurrahman Wahid yang popular dipanggil Gus Dur (mantan presiden Indonesia), Dr. Jalaludin Rakhmat (pakar komunikasi), Dr. Dimitri Mahayana (akademisi ITB), Dr. Revrisond Baswir (Guru Besar UGM), dan Dr. Haidar Bagir (Direktur Eksekutif Mizan). Yang disebutkan terakhir menjadi keynote speaker dalam acara tersebut. Namun, pada saat pembukaan, belum semua pembicara yang diundang hadir. Terlihat pula Gus Sholah (Sholahuddin Wahid) hadir dalam acara tersebut. Ternyata beliau menjadi pembicara menggantikan Gus Dur yang berhalangan untuk hadir. Rencananya pula, rektor ITB, Drs. Djoko Santoso, diundang untuk menyampaikan sambutan, namun beliau berhalangan hadir sebab beliau sedang melakukan perjalanan ke Jogjakarta. Sambutan kemudian disampaikan oleh seseorang dari rektorat.

Haidar Bagir, yang juga alumni Teknik Industri ITB, yang menjadi pembawa acara atau keynote speaker dalam acara tersebut mempersilakan pembicara lainnya untuk duduk di kursi di atas panggung yang telah disediakan panitia. Beliau menerangkan sedikit tentang kedua buku yang akan di bedah dan latar belakang penulisnya. John Perkins adalah seorang kaya penganut samanisme. Juga mantan preman saham yang dibayar untuk mendesak negara miskin dan berkembang, termasuk Indonesia, untuk melakukan peminjaman uang yang tak mungkin terbayarkan kepada negara adidaya. Noam Choamsky adalah seorang ahli bahasa, seorang linguist. Dia juga adalah seorang Amerika yang kontroversial, kritis, dan berhaluan kiri. Dia menulis banyak buku, namun bukunya hanya akan ditemukan di toko – toko buku alternative dan disimpan di basemen. Dia berkata bahwa teroris nomor satu adalah Amerika dan yang paling pantas di invasi oleh Amerika adalah Washington DC. Setelah berurai singkat seperti demikian, Haidar mempersilakan pembicara untuk memberikan presentasi selama kurang lebih 20 menit.

Presentasi pertama dibawakan oleh Gus Sholah. Pertama – tama, alumni Arsitektur ITB ini menerangkan bahwa Gus Dur sedang melakukan ruwat ke Jogjakarta. “Saya alumni ITB, itu kelebihan saya dibanding Gus Dur”, ujar mantan calon wapres ini disambut gelak beberapa hadirin. Sambil membaca teks, Gus Sholah menerangkan bahwa wajar – wajar saja jika kini, seperti dalam buku CoAEH, Indonesia dikerjai habis – habisan oleh negara lain terutama negara – negara Eropa dan Amerika sebagai taktik ekspansi ekonomi negara – negara maju tersebut. Masalahnya adalah: Mau tidak kita dikerjai oleh mereka?

Gus Sholah mengambil contoh Venezuela, salah satu negara eksportir minyak terbesar. Namun kondisi rakyatnya melarat. Amerika Serikat pun terus – terusan menekan negara di tanah latin itu secara ekonomi. Hingga akhirnya Hugo Chavez muncul dan mengubah kebijakan pemerintahan tatkala menjadi presiden. Dia adalah seseorang yang kelak dianugerahi Nobel Perdamaian. Hugo Chavez berusaha melepaskan Venezuela dari tekanan Amerika Serikat. Berkat dukungan rakyatnya, Hugo Chavez yang tidak memiliki mesin politik yang baik dan tidak menguasai media berhasil bertahan setelah beberapa kali pemilu, dikudeta, dan referendum. Jadi, menurut Gus Sholah, permasalahannya bukanlah siapa yang mengerjai atau menyerang kita, tetapi kemauan kita (terutama pemerintah) untuk memberontak.

Dimitri Mahayana, yang merupakan lulusan cum laude Teknik Elektro ITB, melanjutkan acara dengan presentasinya membahas buku IA karangan Noam Choamsky. Dimitri menjelaskan tentang ‘a new norm’, semacam taktik ideologis yang dipropagandakan oleh pemerintah Amerika kepada negara lain guna mendukung langkah imperialistisnya. Seperti dalam kasus invasi ke Irak dan Afghanistan, pemerintah Amerika mendoktrin publik dunia dengan norma yang mereka buat sendiri. Melalui propaganda yang gencar dan massal, Amerika mengarahkan publik dunia untuk sama – sama berpikir bahwa Amerika benar dan Irak salah. Pada akhirnya publik dunia mendukung langkah Amerika. Propaganda inilah senjata favorit Amerika.

Propaganda adalah salah satu cara yang efektif untuk mengarahkan pikiran manusia, menjadikan mereka seperti robot yang mudah diperintah berbuat apa saja. Dengan penguasaan Amerika terhadap media dan pengaruhnya terhadap media lokal negara lain, propaganda Amerika terbukti sukses merubah persepsi masyarakat terhadap suatu hal. Contohnya adalah sebuah polling di Amerika tentang apakah Irak sebuah ancaman. Pasca tragedi WTC, peserta polling yang setuju bahwa Irak adalah ancaman hanya 3%. Satu tahun setelah dilakukan propaganda, angka tersebut naik menjadi 50%-60%. Menurut Dimitri, untuk menghadapai propaganda kita harus kritis. Karenanya, kita memerlukan sistem pendidikan yang dapat mendukung terhadap pengembangan kesadaran kritis ini.

Selanjutnya, Revrisond Baswir, guru besar UGM dan aktivis Koalisi Anti Utang, menambah suasana panas di Aula Barat ITB. “Marilah kita ubah forum ilmiah ini jadi forum perjuangan menuju perubahan”, kata beliau. Beliau memaparkan tentang sejarah utang di negeri ini, dari awal rencana berutang pada tahun 1945, pengajuan proposal utang luar negeri pertama Indonesia, pencairan dana utang luar negeri pertama kepada Indonesia pada tahun 1950, hingga kini saat Indonesia masih menjadi mainan bagi economic hitman. Sejak awal cairnya utang luar negeri kepada Indonesia, pemerintah sudah dibebani dengan berbagai macam persyaratan. Pada saat utang dari Amerika sebanyak 100 juta US dolar tahun 1950, Indonesia diharuskan mendukung Vietnam Selatan yang didukung Amerika saat perang saudara Vietnam. Saat Indonesia berutang kembali tahin 1952 bertepatan dengan masa perang Korea, Indonesia diharuskan mengembargo karet ke Korea. Semasa demokrasi terpimpin, Presiden Soekarno seringkali menentang usaha-usaha pihak asing untuk mengatur negara kita. Lalu presiden Soekarno dijatuhkan lewat tangan orang Indonesia sendiri. Lalu lahirlah pemerintahan kaki tangan Amerika Serikat yang bernama Orde Baru. Meski orde baru telah berakhir, permainan Amerika Serikat belum berakhir. Pemerintah Indonesia tidak cukup berani untuk melawan Amerika Serikat. Pada akhir presentasi, Baswir melayangkan pertanyaan: apakah kita masih merdeka? Maka menurutnya, negara kita yang masih belum bebas dari penguasaan bangsa asing ini perlu diproklamasikan sekali lagi kemerdekaannya. “Karena Soekarno mahasiswa UTB, maka mahasiswa ITB harus memproklamasikan Indonesia kedua kalinya! Kalo nggak, diambil mahasiswa UGM.”, ujar beliau menutup presentasinya.

Jalaludin Rakhmat yang sudah berada di atas panggung, melanjutkan acara seminar dengan penuh senda gurau. Beliau bercerita lebih jauh tentang Noam Choamsky sebagai sesama pakar komunikasi. Beliau banyak menyanjung – nyanjung Noam dan mengatakan bahwa Noam adalah the most unamerican american dan unjewish jew. Meski hanya menambahkan beberapa poin dan cerita presentasinya cukup memperkaya wawasan.

Seusai presentasi dari para pembicara, forum diskusi tanya jawab digelar dan penonton pun mulai beranjak pulang. Aula Barat mulanya penuh hingga kursi yang disediakan panitia pun tidak cukup, sehingga panitia berinisiatif untuk mempersilakan penonton yang tidak kebagian kursi untuk duduk lesehan di depan panggung. Saat forum diskusi, Aula Barat menjadi lenggang. Padahal, banyak materi menarik yang dibahas pada forum tersebut. Pertanyaan yang bervariasi memperkaya lingkup bahasan sehingga ilmu yang diapat semakin banyak. Beberapa pertnyaan disampaikan dengan menggebu – gebu, memojokkan pembicara, bahkan ada yang membaca puisi sebelum bertanya.

Hingga Amerika belum selesai dengan permainannya, pembicaraan ini tidak akan berakhir. Tema ini membutuhkan suatu langkah pencerdasan yang nyata yang selanjutnya akan menjadikan sebuah gerak perlawanan terhadap imperialisme, kolonialisme, dan kapitalisme. Sehingga permainan Amerika dan negara maju pun berakhir. Jika tidak maka kitalah yang akan berakhir, game over.

oleh: Fajar Fauzi Hakim

Aku Bukan Fanatik Jaket Warna-Warni

Filed under: Uncategorized — suaraitb @ 6:19 pm

Kerap kali kita temukan jika kita berjalan-jalan di lingkungan kampus ITB, banyak sekali mahasiswa ITB yang dengan bangga memakai “jaket” warna-warni. Dan dari situ kita dapat melihat bahwa manusia ITB senang sekali dengan apa yang namanya organisasi atau kelompok dan bangga dengannya.

Kenapa sih manusia ITB suka sekali mengkotak-kotakan diri? Mari kita menilik lagi dari awal manusia ITB masuk ke kampus “kotak-kotak”, pertama-tama mereka pasti mengikuti orientasi kampus yang biasa disebut OSKM. Dalam OSKM ini, para manusia baru tersebut di indoktrinasi dengan apa yang namanya satu ITB ITB satu, perjuangan, rakyat kecil, dan sebagainyalah. Nah tahap kedua sebelum menjadi manusia ITB seutuhnya, setelah melewati masa OSKM dengan sukses, mereka masuk ke jurusan masing-masing yang biasanya di dalamnya ada yang namanya himpunan mahasiswa(HIMA), Lembaga dakwah departemen (LDD) dan para Swasta. Nah disini manusia setengah ITB, memilih lagi, apakah mereka akan ikut masuk himpunan (biasanya wajib), atau pilih yang lebih rohani (LDD). Yang ketiga, tentunya mereka akan memilih, biasanya banyak yang memilih himpunan ketimbang LDD, karena lebih konservatif dan liberal, tidak seperti LDD yang kesannya introvert dan ekstrimis.

Di dalam pelaksanannya, baik HIMA maupun LDD membutuhkan adanya kaderisasi. Nah disinilah perang doktrin terjadi, apa yang sudah dikonsepkan oleh para panitia OSKM kembali buyar karena adanya perbedaan “input” yang diberikan oleh kedua organisasi. Setelah melewati kaderisasi dan paham sedikit mengenai seluk beluk ITB, maka dengan itu disahkanlah mereka sebagai manusia ITB sepenuhnya. Dan ujung-ujungnya, seperti yang telah saya tulis diatas, banyak manusia ITB memakai “jaket” warna-warni sebagai lambang eksistensi dan kebanggaan serta fanatisme golongan.

Ditambah lagi dengan adanya pergeseran paham yang setiap tahun rasa persatuan dan kebanggaan terhadap ITB semakin menurun, sehingga sekarang ini manusia ITB dengan mudahnya membentuk organisasi dan membuat jaket atau tidak peduli sama sekali. Dimanakah rasa persatuan para manusia ITB tersebut kepada almamaternya ini? Dimanakah rasa bangga terhadap ITB? Saya sangat menyayangkan hal tersebut karena jangan sampai kita kelihatan bagus di luar tapi jelek didalam, ingat kita termasuk sebagai 3 kampus terbaik di Indonesia. Contohlah UI dengan slogan The Yellow Jacket nya, mana ITB?

Nama : Aditya Prabowo
NIM : 19004107
Kominfo KM ITB

March 22, 2006

Industri Media

Filed under: Uncategorized — suaraitb @ 2:48 pm

Mengenang saat mengunjungi MEMI 2006 (MEMI akronim dari: aku lupa M yang pertama kepanjangannya apa, kelanjutannya adalah Exhibition Media Industry) pada 11 Februari 2006 lalu di Sabuga seperti mengingat saat kebenaran dan ketenaran berbaur. Tanpa garis merah. Di
sanalah pers menampakkan dua sisi besarnya: sebagai media informasi yang mengungkap kebenaran dan media hiburan yang menjadi perantara ketenaran.

Acara yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional yang jatuh pada tanggal 9 Februari ini juga bertepatan dengan ulang tahun Persatuan Wartawan Indonesia yang ke-60. Berlangsung dari tanggal 9-12 Februari 2006, sajian utama acara ini adalah eksibisi, pameran dari berbagai perusahaan yang bergerak di bidang industri media. Tak kurang dari puluhan perusahaan dan instansi memampangkan produk-produknya dalam stand-stand. Perusahaan dan instansi yang berpartisipasi dalam pameran ini antara lain Pikiran Rakyat, Reuteur, Antara, Metro Group, Media Nusa Citra, Starvision, Multivision Plus, Radio Republik Indonesia, Departemen Komunikasi dan Informasi, SCTV dan Indosiar. Selain itu, tentu masih banyak lagi pemain kawakan di dunia informasi dan pers Indonesia yang urun rembug. Bahkan ada pula perusahaan non-media industri yang ikut. Namun beberapa perusahaan media terkenal seperti Jawa Pos Group dan Republika tidak terlihat dalam pameran tersebut.

Untuk menyemarakan pameran, beberapa perusahaan mengadakan berbagai acara di stand mereka masing-masing atau di panggung utama. Seperti Starvision yang menyebarkan formulir casting untuk menjadi bintang sinetron, Indosiar yang mengadakan lomba presenter berita, RRI yang mengundang Aa Gym untuk berbincang mengenai RUU pornografi, dan Multivision Plus yang mengadakan jumpa fans dengan sejumlah artis-artis tenar. Berbagai fasilitas disediakan peserta pameran untuk menarik pengunjung. Hampir di setiap sudut Gedung Sabuga terdapat layar komputer atau layar TV, koran atau majalah gratis, dan ruang baca. Bahkan MNC menampilkan 4 buah TV layar lebar yang disusun menjadi layar besar dengan panggung lebar di depannya..

Saya berkunjung ke pameran pada hari Sabtu tanggal 11 Februari 2006, setelah sebelumnya berjalan kaki dari Sariwangi ke Taman Sari. Pameran ini sangat megah. Memasuki pintu utama, pengunjung sudah disuguhi, panggung kecil yang selalu diramaikan oleh acara-acara baik berupa kuis atau jumpa fans. Stand-stand memenuhi sayap kiri dan kanan Sabuga, bahkan auditorium pun digunakan sebagai kawasan elit tempat stand-stand elit berpameran. Pengunjung cukup banyak dan ini mengakibatkan pameran berlangsung begitu ramai.

Yang terpikir pertama kali saat berkunjung ke pameran ini adalah bahwa isinya adalah organisasi dan perusahaan jurnalistik, salah satu pihak yang mengakibatkan globalisasi berlangsung di dunia dengan loncatan informasi yang berlangsung cepat. Tapi ternyata yang saya dapati adalah yang saya lupakan. Bahwa industri media mencakup juga industri media hiburan yang mengakibatkan para artis (terlebih aktris dan actor sinetron) bertebaran di muka bumi. Saya sendiri baru melihat artis dalam acara terebut saat akan pulang dari pameran. Sepintas saya melihat Sultan Djorghi menaiki panggung kecil di depan pintu masuk. Sebelumnya ketika pertama masuk dan berjalan di koridor kiri, presenter Turis Dadakan, seorang bule dengan ransel dan gaya turis, berlari sepanjang koridor sambil mengucapkan kata-kata yang tak kudengar jelas.

Jelas sebagian pengunjung adalah orang yang ingin bertemu artis pujaannya, ingin jadi artis juga, ingin mencari hiburan, ingin datang saja, atau ingin mendapat barang-barang gratisan. Orang-orang yang lebih serius berpikir bahwa pameran ini adalah ajang pencarian informasi dan pemantauan terhadap dunia media informasi di Indonesia khususnya. Saya termasuk orang yang serius tersebut, sekalian saya ingin menyalurkan hobi saya sebagai pengumpul pamflet dan barang atau bacaan gratisan yang bermanfaat. Juga, saya ingin membuktikan sekali lagi bahwa kertas mempunyai massa juga, jika ditumpuk di dalam tas maka akan cukup untuk melatih otot pundak dan punggung.

Saya harap tahun depan saya masih dapat menikmati pameran serupa. Terlebih saat ini dunia media informasi menjadi perbincangan dan perdebatan batin tersendiri bagi saya. Seperti yang saya tuliskan di awal, bahwa pameran tersebut adalah pergumulan antara kebenaran dan ketenaran. Mungkin sebuah ketenaran adalah kebenaran juga. Sayang, ketenaran saat ini kebanyakan dibentuk dari sebuah budaya kekerasan yang berarti pembentukan terhadap kekerasan baru juga. Padahal media informasi berarti menyebarluaskan kebenaran dan mencerdaskan orang.

Pernyataan di atas mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang. Saya yang 6 tahun lalu mungkin juga merasa itu adalah sebuah omong kosong. Sampai kehidupan mempertemukanku dengan wacana kekerasan media. Saat kebanyakan iklan terutama iklan kosmetik dan perawatan kulit selalu memandang bahwa penonton iklan adalah tidak sesempurna bintang iklannya. Katakanlah yang tidak sesuai dengan bintang iklan adalah jelek. Atau saat saya melihat puluhan makian dan tamparan melayang dari sinetron-sinetron. Atau saat privasi tokoh yang tidak penting bagi kebangkitan moral di negeri ini dikorek, hal tabu disebarkan, dan agama di-overmistisasi. Masih banyak produk media yang pelan dan diam-diam menjadi candu serta mendoktrin kita dengan propaganda-propaganda yang menjauhkan manusia dari fitrahnya.

Saya memang bukan pengamat media, saya kurang ahli berbicara seperti tadi. Namun saya selalu miris ketika sadar dan menyaksikan hal-hal yang telah diperbuat sisi gelap media. Akhirnya, setelah berdiskusi dengan seorang kawan, saya mendapatkan tiga hal yang bisa dipraktikkan. Pertama, jadilah orang kritis, bersikap dewasa dan tahu mana yang baik, yang benar, dan yang buruk. Kedua, pecahkan saja TV-nya!!! Biar Ramai!!! Terutama bila kita sudah terlalu muak dan terlalu hati-hati. Namun hati-hati saja bila kelak kita menjadi endapan lumut di sisi arus globalisasi karena mempraktikkan hal kedua ini. Ketiga, jadilah media.

By: Fajar Fauzi Hakim, Anggota Depkominfo KM ITB

February 17, 2006

Seminar National Character Building

Filed under: Liputan — suaraitb @ 3:17 pm

Dalam Rangka Pemaknaan kembali nilai serta Karakter Kebangsaan, KM ITB mengadakan Seminar Nation Character Building yang diselenggarakan bertepatan dengan Pembukaan Pesta Rakyat 2006.Pembicara yang hadir Siswono Yudohusodo, Prof. Dr. I Gede Raka (Dosen Teknik Industri, Anggota MWA ITB), Dr. Fuad Abdal (Mantan direksi Bimantara, rektor ISTN, ketua DEMA’71).

Seminar yang dilaksanakan Kamis, 16 Februari 2006 mulai Pukul 08.30-12.00 di Aula Timur ITB ini, membahas tentang bagaimana kondisi kemerosotan karakter bangsa kita di era sekarang. Padahal Indonesia adalah negeri kepulauan dengan lebih dari 200 juta penduduk, puluhan ribu pulau dan bahasa. Begitu pula limpahan barang tambang, energi, dan mineral yang menjadikan negeri ini begitu menggiurkan untuk diolah dan dikuasai. Tak ketinggalan potensi biodiversity kita yang terdiri dari minimal 325.350 jenis flora dan fauna. Semua hal di atas menimbulkan suatu pertanyaan besar, “Mengapa bangsa ini tidak bisa menjadi bangsa yang besar?”

Akhirnya paparan pembicara mengajak semuanya untuk berperan dalam kebangkitan bangsa ini. “Jalankanlah peran sesuai posisinya masing-masing”, begitu Siswono mangatakan. Menurut Gede Raka, bahwa Apa yang kita lakukan saat ini aakan menjadi “butterfly effect” di kemudian hari.Bangun karakter bangsa, karena “Knowledge is power, but Character is more.” Acara ditutup dengan iringan Orkestra ITB dan pembukaan pesta rakyat KM ITB 2006, 16-19 Februari 2006. Kominfo KM ITB (www.km.itb.ac.id)

February 5, 2006

Dunia Menggila …

Filed under: Umum — suaraitb @ 9:49 am

Aliran waktu yang menjurumus pada dimensi tanpa batas melalaikan manusia dari segala hal yang telah diatur oleh aturan Tuhan. Kesombongan dari sang manusia yang telah menjadi-manjadi menyebabkan kemurkaan Tuhan yang sangat membenci manusia-manusia sombong yang ada di muka bumi ini. Lalu apa konsekuensi dari kesombongan itu??? Sebuah kegilaan…, ya …, kegilaanlah yang telah menyeruak dari alam tanpa dasar menuju permukaan. Kita lihat saja saat ini, betapa banyak bentuk dari kegilaan tersebut menjelma untuk sekedar mengelabui manusia-manusia yang tidak pernah memakai mata batinnya. Dan parahnya lagi, mereka yang melakukan kegilaan itu tidak sadar bahwa yang mereka lakukan adalah sebuah bentuk kegilaan.

Sebut saja …, RUU anti pornografi dan pornoaksi yang belakangan ini sedemikian marak muncul untuk diangkat menjadi topik yang panas untuk dibicarakan. Walaupun pro dan kontra itu adalah hal wajar dalam sebuah kasus, tidak sewajarnya bagi manusia yang beragama dan berbudaya berdalih bahwa pornografi dan pornoaksi itu boleh-boleh saja. Bahkan mereka yang kontra terhadap RUU tersebut notabene adalah public figure dan orang-orang yang berpendidikan. Patut dipertanyakan memang, sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran mereka??? Mereka berdalih bahwa pornografi dan pornoaksi itu adalah sebuah seni …, padahal jelas bahwa pornografi dan pornoaksi itu sangat bertentangan dengan seni. Seni adalah hasil cipta dan karsa manusia yang membuat penikmatnya menikmati dari segi akal dan hati. Sedangkan pornografi ataupun pornoaksi adalah alat setan yang digunakan untuk menguasai nafs/jiwa manusia menjadi sebuah al hawa al nafs yang berarti sebuah kesemuan jiwa.

Timbul lagi sebuah pertanyaan, Apakah uang dan popularitas telah menjadi komoditas utama sebuah kehidupan???

Ingatkah kita akan salah satu pesan Rasulullah saw untuk berhati-hati terhadap 3 hal : harta, tahta, wanita. Namun, tampaknya sekarang banyak sekali manusia yang telah mengabaikan pesan itu. Bahkan, ketiganya sudah menjadi tujuan dari kebanyakan. Wanita diekspos dalam sebuah kedok “seni” untuk mendapatkan harta …, dan harta digunakan untuk mendapatkan kekuasaan yang pada akhirnya ditujukan untuk mendapatkan harta yang lebih banyak lagi. Dunia ini sudah betul-betul gila …, dan kegilaan ini tampaknya terus berlanjut tiada henti.

Sebuah tantangan untuk kita semua yang berniat menghapuskan semua kegilaan di dunia ini…, apakah kita akan diam saja melihat kegilaan-kegilaan ini terjadi di depan mata kita??? Teringat sebuah lagu dari Extreme, More Than Words, seharusnya kita bercermin pada judul lagu itu …, lebih dari kata-kata, kita butuh tindakan yang real .., yang konkrit. Teringat dengan 3M-nya Aa’ Gym, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang terkecil, dan mulailah saat ini juga.

Oleh: Black Fire

Laskar Pelangi, Sebuah Potret Realita

Filed under: Review,Umum — suaraitb @ 9:39 am

Oleh: Trian Hendro A

Di tengah ramainya jagad buku akhir-akhir ini dibanjiri cerita chicklit dan teenlit, sebuah langkah berani dilakukan oleh Bentang Pustaka. Tidak hanya karena menawarkan tema yang “sedikit” berbeda dari arus, tapi juga karena cerita ditulis oleh seorang pemula di kalangan novelis, cerpenis atau kalangan sastra Indonesia.

Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, memberi suasana baru di dunia sastra kita sekarang. Di Laskar Pelangi (LP), Andrea menceritakan kisah hidupnya sendiri bersama teman-temannya ketika masa-masa menikmati pendidikan dasar di daerah pelosok Pulau Belitong, daerah yang sebenarnya merupakan penghasil timah terbesar nasional. Sekawanan anak manusia itulah yang mereka namakan sendiri sebagai laskar pelangi, karena kesukaannya pada fenomena pelangi yang mereka nikmati di atas pohon Filicium.

Ceritanya mengalir dimulai dari hari pertama penerimaan murid baru SD Muhammadiyah, sebuah sekolah swasta yang digambarkan dengan bangunan seperti kandang ayam yang terdiri dari seorang kepala sekolah dan seorang guru untuk 9 tingkat sekolah (SD dan SMP), akhirnya berhasil memenuhi target jumlah minimal 10 siswa sehingga sekolah tidak dibubarkan. Karena semata-mata sekolah itu gratis Dan hari-hari petualangan LP mulai menarik dinikmati, dengan karakteristik anak-anaknya yang unik.

Misalnya, seorang anak pesisir bernama Lintang, yang mewakili adegium bahwa kecerdasan bisa terlahir dimana saja, tidak melihat status sosial dan geografis. Kemudian Mahar, dengan kemampuannya berhasil mendalami dan mengaktualisasikan bahasa seni dari alam sekitarnya. Dan keduanya seperti perpaduan Yin-Yang, mampu menciptakan keseimbangan dinamis yang mengangkat posisi sekolahnya menjadi terpandang di Belitong.

Hal yang paling kuat disampaikan dalam novel ini, bahwa dibutuhkan keteguhan, ketekunan, keinginan dan kerja keras untuk mewujudkan cita-cita. Keterbatasan yang dimiliki, tetap akan menumbuhkan kebahagiaan bila dimaknai dengan keihlasan berkorban untuk sebanyak-banyaknya memberi, bukan menerima. Kita juga dihadapkan pada banyak perjuangan manusia dengan segala keterbatasannya, sangat menghargai pendidikan.

Banyak potret kehidupan yang ditampilkan novel ini. Kesahajaan seorang guru, Bu Mus, yang benar-benar layak digugu dan ditiru. Atau kebijaksanaan sang Kepala Sekolah, Pak Harfan. Kesenjangan pendidikan di daerah-daerah pelosok negeri ini, ketidakadilan yang harus menenggelamkan potensi kecerdasan anak bangsa, dan kehidupan sosial masyarakat Pulau Belitong, sebuah gambaran paradoks pemerataan pembangunan.

Kisah percintaan gaya anak kecil, keberanian dan keingintahuan yang besar menjadi feature dalam cerita ini. Andrea sendiri sengaja mengeksplorasi pengetahuan hayati, sehingga kita disajikan dengan banyak kiasan menggunakan bahasa tumbuhan, yang di satu sisi memperkaya kosakata kita tapi disisi lain akan membuat pembaca bosan.

Dari jenisinya, LP bisa dimasukan dalam deretan novel realis, hampir sejalan misalnya dengan cerita fiksi yang disandarkan pada kisah nyata atau sejarah. Dan bagi penulis pemula, sebuah karya akan mudah lahir bila alur ceritanya memiliki ikatan emosional kuat dengan pengarang. Pun demikian dengan Andrea. Sehingga kelemahan seorang pengarang pemula yang terjebak pada ketidakjelasan alur dan muatan cerita, gaya bahasa, serta kemampuan deskriptif banyak tertutupi karena Andrea seolah-olah hanya memindahkan pengalamannya ke dalam LP.

Akhirnya, Laskar Pelangi layak dibaca siapa saja, tidak hanya penikmat sastra, tapi juga penggiat atau stakeholder pendidikan. Dan khasanah cerita kita, akan semakin bermakna dengan kehadiran Laskar pelangi ini. Selamat membaca…

Cover Laskar Pelangi

January 25, 2006

Studium Generale

Filed under: Agenda — suaraitb @ 11:52 am

Hadirilah kuliah umum sekaligus sosialisasi Komunitas Media Suara ITB, yang akan diadakan pada:

  • Hari/Tanggal: Kamis, 26 Januari 2006
  • Jam: 08.30-13.00 WIB
  • Tempat: Ruang 9231 (GKU Timur)
  • Agenda:
    • Studium Generale Jurnalistik oleh Bambang Harimurti (majalah Tempo) dengan tema: “Pers Mahasiswa: Posisinya di Masa Kini”
    • Sosialisasi Komunitas Media ITB

Demi pers mahasiswa yang lebih baik!

January 19, 2006

Pers Mahasiswa ITB: Masih Ada Kesempatan Berbenah

Filed under: Umum — suaraitb @ 12:37 pm

Saya membayangkan sebuah pers mahasiswa ITB yang mampu melahirkan karya-karya khas pers mahasiswa, sesuai dengan karakter mahasiswa sebagai sebuah konstruksi komunitas organis. Pers mahasiswa (persma) yang mampu sejajar dengan beban sejarah institut dalam menapaki jejak langkah perjuangan serta pembangunan bangsanya. Persma yang dirinya berada bukan dalam rangka mewujudkan pers itu sendiri, melainkan juga sebagai sebuah tanggung jawab yang diemban oleh insan-insan institut sebagai sebentuk harapan bagi lingkungannya.

ITB, terlahir sebagai institut tertua di negeri ini, melahirkan banyak tokoh bangsa dan dicatat dalam tinta emas sejarah bangsa. Sudah puluhan tahun ditapaki, tidak menjadikan ITB lekang karena waktu. Malah institut ini semakin ditunggu kiprahnya di setiap pergulatan bangsa dalam mencari identitas. Dan memang terbukti dalam torehan, hampir setiap momen bangsa, sedkit atau banyak, ITB masuk dalam pusaran dinamika itu.

Sejarah dan peran panjang institusi ITB hendaknya lah mampu diwarisi semangatnya oleh persma ITB. Bagaimana sebuah persma ITB menjawab tuntutan, bukan hanya sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari jubah institusi, melainkan juga oleh dunia persma itu sendiri. Dalam segala daya upaya merangkai (kembali) semangat ke-persma-an itulah, sebuah tulisan sederhana ini dihaturkan.

Sebuah persma mahasiswa ITB, adalah pers mahasiswa yang mampu menyeimbangkan peran kekinian ITB dalam kerangka jurnalistik yang dimoderasi. Jika dalam era sebelum 1998 cirikhas pers mehasiswa adalah menjadi salah satu insan pers di negara ini yang berani vis a vis dengan pengusa (baca: rezim otoriter), sedangkan pers umum lainya cenderung berada di “jalur aman”, maka pasca reformasi seharusnya tidak menjadikan pers mahasiswa kehilangan pijakan jurnalistik dengan tetap mengusung spirit sama dalam aktivitasnya.

Di ITB, perjalanan persma dibidani khusus oleh unit kemahasiwaan Boulevard dan Pers Mahasiswa ITB (untuk berkutnya, nama unit akan disebut lengkap: Pers Mahasiswa atau disingkat PM, dan pers mahasiswa sebagai sebuah istilah, disingkat persma). Boulevard berdiri pada awal dekade 90-an, dimana saat itu sebuah persma disolidkan dengan jiwa perlawanan melalui tabloid dan buletinnya. Dan yang lebih muda, Pers Mahasiswa mulai dihadirkan di wajah institut tahun 2000an, dimana gagasanya untuk menelurkan majalah yang menjadi bentuk representatif wajah ITB di luar.

Jauh sebelumnya ternyata, Didik Supriyanto[1] mencatat, sebuah persma ITB pernah lahir dalam bentuk majalah mahasiswa yang terkenal saat itu, Kampus (KM). KM hadir di periode pemberlakuan NKK/BKK yang terkenal dengan represifitas gerakan mahasiswa. Ketika gerakan ditindak, locus persma yang menjawabnya kala itu. Seiring berjalannya waktu pula, KM tidak mampu bertahan karena “kegenitan” terhadap pemerintah yang dicirikannya sendiri.

Realitas Kuasa dan Eksistensialis Persma
Maka saat ini, Boulevard dan Pers Mahasiswa adalah realitas kuasa atas persma ITB. Dan realitas kuasa ini, menurut Habermas[2], seharusnya tidak hanya dilegitimasikan tetapi juga dirasionalisasikan. Bentuk legitimasi sudah dilakukan Boulevard dan Pers Mahasiswa yang dengan keterbatasanya menghasilkan karya jurnalistik, Boulevard dengan tabloid mahasiswa Boulevard dan buletin Selasar, sedangkan Pers Mahasiswa mengandalkan majalah Edutrend.

Apa yang menarik, bahwa Habermas menyoroti bahwa segala bentuk kekuasaan seharusnya tidak hanya dilegitimasikan, tetapi juga bisa dirasionalisasikan. Dalam kekuasaan, rasionalisasi diejakan dengan model komunikasi antara subyek dan obyek. Dan jika dalam ranah jurnalistik persma, rasionalisasinya bukan semata pada komunikasi, karena dalam legitimasinya, sebuah persma justru secara aktif melakukan komunikasi pembuktian.

Rasionalisasi yang dilakukan adalah rekonstruksi persma itu sendiri, dalam pengertian menuju sebuah persma yang sejati. Walaupun sejati sendiri itu tiada kemutlakan, namun kesejatian sebuah fenomena dalam praksis bisa dilihat dalam keberadaan komunitas persma saat ini berada. Artinya, sebuah kondisi atas persma-persma lain bisa menjadi alat bantu untuk rekonstruksi kesejatian.

Kenyataannya, bahwa persma ITB terlihat gagap berhadapan dengan persma lainya, walaupun kedua belah pihak serupa dalam bereproduksi, antara buletin dan majalah atau jurnal. Setelah menelisik lebih jauh, sebuah pertanyaan, harapan yang bercampur pesimistis menghujam dalam menukik dakian ke-aku-an, masih bisakah persma ITB menanggalkan dirinya untuk kemudian sengaja melakukan rekonstruksi?

Sayangnya, eksistensi ke-aku-an tadi masih banyak di sela-sela duduk kita. “Mereka kan punya jurusan sosial, kita?”, sebuah apologi saya pikir, daripada sebuah refleksi atas kesadaran diri sendiri. Bukankah kita, ITB, memang seperti ini? lantas ada apa dengan Suara Mahasiswa? Justru, sekarang lah saat tepat untuk berpikir keras dan dalam atas eksistensi kita sendiri, kenapa kita masih berani menyebut diri sebagai bagian dari persma. Kalau memang tidak mau, sekali tadi mau bukan masalah mampu, maka buram sudah jarak pandang ke depan persma ITB. (more…)

Next Page »

Create a free website or blog at WordPress.com.